Sydney, Jurnas.com - Perdana Menteri (PM) Australia, Anthony Albanese mendesak seluruh pihak yang berkonflik melakukan de-eskalasi Timur Tengah (Timteng), usai pemilu sela Amerika Serikat (AS) yang memberikan kemenangan kepada Partai Demokrat.
Albanese menilai bahwa perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran serta kebijakan tarif Trump terhadap mitra dagang AS merupakan faktor utama di balik kemenangan Demokrat, sekaligus pukulan bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik.
Menurut laporan ABC yang dikutip Bloomberg pada Sabtu (7/11), Albanese memastikan bahwa hasil pemilu paruh waktu AS tidak akan mengubah cara Canberra berinteraksi dengan Gedung Putih, termasuk seruan untuk meredakan ketegangan antara Washington dan Teheran.
AS dan Iran kian dekat dalam upaya mengakhiri perang, usai Teheran menunjukkan kesediaan untuk membahas isu-isu terkait program nuklirnya yang sebelumnya tidak dibahas. Hal ini disampaikan seorang diplomat anonim dalam laporan Bloomberg pada Jumat (6/11) kemarin.
Komentar Albanese juga muncul pasca Pertemuan Kepala Pemerintahan Persemakmuran di Karibia yang dia hadiri awal November lalu, ketika dia mengatakan bahwa pemilihan paruh waktu AS masuk dalam topik bahasan.
Semua negara yang berpartisipasi dalam pertemuan tersebut menginginkan agar perang berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali. Australia juga akan terus meminta AS untuk meredakan ketegangan.
"Saya telah mengatakannya secara terbuka dan langsung (kepada Trump), bahwa sudah saatnya untuk meredakan ketegangan," kata Albanese kala itu.
"Warga Australia dapat mengharapkan saya untuk terus bekerja secara diplomatis demi kepentingan nasional Australia," dia menambahkan.
Demokrat Catatkan Kemenangan Telak
Diketahui, Demokrat meraih kemenangan telak dalam pemilu sela pada awal pekan ini. Partai tersebut meraih kendali penuh majelis tertinggi di Kongres AS, Dewan, dan Senat.
"Alasan kita kalah adalah perang," ujar Wakil Presiden AS, JD Vance dikutip dari BBC.
Vance menambahkan bahwa perang melawan Iran telah menyebabkan peningkatan tajam biaya bagi warga Amerika, terutama pada harga bensin. Padahal, saat berkampanye masa jabatan kedua pada 2024, Trump berjanji menekan harga bensin hingga di bawah USD$2 per galon.








