Jakarta, Jurnas.com - China untuk pertama kalinya mengonfirmasi tengah menjajaki kemungkinan pertemuan tiga pemimpin negara besar, yakni Presiden Xi Jinping, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Jika terlaksana, pertemuan tersebut akan menjadi momen diplomatik bersejarah di tengah perbedaan kepentingan Beijing, Washington, dan Moskow.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan Beijing sedang menjalin komunikasi dengan sejumlah pihak terkait rencana pertemuan ketiga kepala negara tersebut.
Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai penyelenggaraan maupun format pertemuan tersebut.
Pertemuan itu disebut berpeluang berlangsung bulan ini di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Shenzhen, China selatan.
China menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin APEC tahun ini, yang beranggotakan 21 negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia.
"China sedang berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait mengenai pertemuan antara ketiga kepala negara," kata Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing.
Jika terealisasi, pertemuan Xi, Trump, dan Putin akan menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam format tiga pemimpin negara tersebut.
Meski demikian, sejumlah analis menilai pertemuan itu belum tentu menghasilkan kesepakatan substantif karena kepentingan ketiga negara masih saling berseberangan.
Direktur Program China di Stimson Center, Sun Yun, menilai Beijing lebih menginginkan nilai simbolis dari pertemuan tersebut dibandingkan risiko politik yang mungkin muncul.
"Saya pikir pertemuan itu akan terjadi. Pertanyaannya adalah format dan isinya. China menginginkan citranya, tetapi tidak ingin menanggung biayanya," kata Sun.
Trump diperkirakan melakukan perjalanan ke Shenzhen untuk bertemu Xi. Pertemuan tersebut akan menjadi yang ketiga bagi kedua pemimpin sepanjang tahun ini dan berlangsung ketika gencatan ketegangan dagang kedua negara masih rapuh.
Kesepakatan meredakan ketegangan perdagangan itu dijadwalkan berakhir pada Januari mendatang. Karena itu, pembicaraan di Shenzhen berpotensi menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan hubungan dagang kedua negara.
Namun, sejumlah persoalan masih membayangi hubungan Washington dan Beijing. Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, dalam panggilan video pada Jumat dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng, mendesak Beijing mengambil langkah konkret untuk memenuhi komitmen sebelumnya.
Menurut pernyataan kantor Greer, tuntutan tersebut terutama menyangkut pembelian produk pertanian, unsur tanah jarang, dan mineral penting lainnya.
Di tengah agenda pertemuan dengan Xi, Trump juga menyatakan ketertarikannya untuk bertemu Putin guna membahas pengendalian senjata nuklir. Akan tetapi, kepentingan Moskow disebut lebih berfokus pada pembahasan perang Ukraina tanpa melibatkan Kyiv dalam perundingan.
Mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS pada masa pemerintahan Barack Obama, Danny Russel, menilai Rusia memiliki kepentingan paling besar untuk mendorong pertemuan trilateral tersebut.
Menurut Russel, Moskow jelas berada di balik upaya penyelenggaraan pertemuan karena kehadiran Putin bersama pemimpin AS dan China akan menjadi keuntungan diplomatik bagi Rusia.
"Putin memiliki keuntungan paling besar dari pertemuan trilateral para pemimpin ini, dan Rusia jelas berada di balik dorongan untuk menggelar pertemuan tersebut. Ini akan menjadi keberhasilan diplomatik bagi Moskow," ujar Russel, yang kini menjadi distinguished fellow di Asia Society Policy Institute.
Russel juga menilai Trump kemungkinan tertarik dengan kesempatan tampil bersama dua pemimpin negara besar tersebut. Namun, ia mengatakan para penasihat Trump kemungkinan telah mengingatkan agar isu Ukraina tidak menjadi fokus pembicaraan.
Sementara itu, Sun Yun memperkirakan Rusia akan memanfaatkan pertemuan untuk mendorong China dan AS mendekati posisi Moskow mengenai Ukraina. Dalam situasi tersebut, Beijing harus menghadapi upaya Rusia memengaruhi arah pembicaraan.
Sun menambahkan, China kemungkinan tidak akan terlibat dalam pembahasan pengendalian senjata nuklir maupun isu Ukraina dan Iran secara substantif. Beijing diperkirakan tetap menyampaikan sikap diplomatiknya bahwa perdamaian penting dan perang harus diakhiri.
Selain perbedaan kepentingan, Beijing juga menghadapi tantangan dalam mengelola persepsi publik terhadap pertemuan tersebut. Sun mengingatkan agar pertemuan tiga pemimpin negara besar itu tidak dipandang sebagai upaya membagi pengaruh dunia di antara China, AS, dan Rusia.
"Pertemuan puncak ini tidak boleh disamakan dengan tiga kekuatan besar yang membagi dunia," kata Sun.
Direktur senior Program China di Foundation for Defense of Democracies, Craig Singleton, juga menilai pertemuan tersebut berpotensi hanya menghasilkan kesempatan bagi ketiga pemimpin untuk tampil bersama di hadapan publik.
Menurut Singleton, kehadiran Putin dalam satu forum bersama Trump dan Xi dapat memberikan keuntungan simbolis bagi Rusia. Namun, nilai diplomatik dari momen semacam itu dinilai semakin terbatas jika tidak diikuti hasil konkret.
"Kesempatan berfoto ini memiliki manfaat diplomatik yang semakin berkurang. Pertemuan tersebut mungkin bersejarah dari sisi kemegahannya, tetapi belum tentu menghasilkan sesuatu yang benar-benar berdampak," ujar Singleton. (*)
Sumber: Arab News









