Gaya Hidup

Kehilangan Semangat Menjalani Hari? Kenali Kondisi Languishing

Tidak semua orang yang merasa kehilangan semangat sedang mengalami depresi, bisa jadi Anda sedang mengalami languishing
Ilustrasi Kehilangan Semangat Menjalani Hari (Foto: Hello Sehat)

Jakarta, Jurnas.com - Tidak semua orang yang merasa kehilangan semangat sedang mengalami depresi. Ada kondisi kesehatan mental yang membuat seseorang merasa hidupnya berjalan monoton, sulit menemukan tujuan, dan kehilangan kegembiraan meski tidak selalu merasa sedih. Kondisi ini dikenal dengan istilah languishing.

Perasaan tersebut bisa muncul ketika seseorang terus-menerus merasa bosan, apatis, gelisah, atau tidak puas dengan kehidupannya. Aktivitas sehari-hari tetap berjalan, tetapi terasa seperti rutinitas tanpa arah dan tidak memberikan kepuasan.

Kamus Psikologi American Psychological Association (APA) mendefinisikan languishing sebagai kondisi tidak adanya kesehatan mental yang ditandai kebosanan, sikap apatis, kelesuan, dan hilangnya minat terhadap kehidupan.

Psikiater Dion Metzger menggambarkan kondisi ini sebagai tumpulnya emosi. Seseorang bukan sedang merasakan kesedihan mendalam, melainkan kehilangan kemampuan untuk merasakan kegembiraan.

"Ini bukan kesedihan, melainkan ketiadaan kegembiraan. Ini adalah perasaan hampa yang netral," jelas Metzger.

Konsep languishing diperkenalkan oleh sosiolog sekaligus psikolog Corey Keyes dalam kajiannya mengenai spektrum kesehatan mental. Menurut pendekatan tersebut, tidak mengalami gangguan mental bukan berarti seseorang otomatis memiliki kesehatan mental yang baik.

Keyes membedakan dua kondisi pada spektrum tersebut, yakni flourishing dan languishing. Flourishing menggambarkan kondisi ketika seseorang memiliki perasaan positif dan mampu menjalankan kehidupannya dengan baik. Sebaliknya, languishing ditandai rendahnya perasaan positif dan menurunnya fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penelitian pentingnya pada 2002, Keyes menemukan bahwa orang yang mengalami languishing memiliki risiko mengalami episode depresi berat dua kali lebih tinggi dibandingkan mereka dengan kesehatan mental moderat, serta hampir enam kali lebih tinggi dibandingkan kelompok flourishing.

Psikolog klinis Carla Marie Manly menjelaskan, languishing dapat terasa seperti awan kelabu yang menyelimuti kehidupan. Kondisi ini sering dikaitkan dengan respons sementara terhadap stres berkepanjangan, pengalaman yang membuat seseorang merasa tidak berdaya, dan frustrasi.

9 tanda languishing yang perlu dikenali

Gejala languishing tidak selalu mudah disadari karena dapat muncul dalam bentuk perubahan kebiasaan maupun perasaan yang berlangsung sehari-hari. Berikut sejumlah tanda yang perlu diperhatikan.

Pertama, kehilangan motivasi. Seseorang sulit menemukan dorongan untuk memulai pekerjaan atau menyelesaikan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan dengan mudah.

Kedua, sulit berkonsentrasi. Fokus mudah terpecah sehingga pekerjaan atau kegiatan sehari-hari terasa lebih sulit diselesaikan.

Ketiga, energi menurun. Tubuh dan pikiran terasa lesu, disertai berkurangnya semangat untuk menjalani aktivitas.

Keempat, perubahan nafsu makan. Sebagian orang mengalami penurunan nafsu makan, sedangkan lainnya cenderung makan berlebihan untuk menenangkan diri.

Kelima, pola tidur berubah. Tidur menjadi terganggu atau sering terputus. Pada sebagian orang, kondisi ini justru ditandai dengan tidur lebih lama dari biasanya.

Keenam, menarik diri dari lingkungan sosial. Minat untuk berinteraksi dengan orang lain berkurang sehingga seseorang cenderung menghindari pertemuan atau komunikasi.

Ketujuh, kehilangan tujuan. Kehidupan terasa stagnan dan tidak memiliki arah yang jelas. Seseorang bisa merasa sekadar menjalani hari tanpa mengetahui apa yang ingin dicapai.

Kedelapan, tidak tertarik pada kegiatan yang biasanya menyenangkan. Hobi atau aktivitas yang sebelumnya memberikan kepuasan tidak lagi terasa menarik.

Kesembilan, kesulitan menjalankan rutinitas. Aktivitas sehari-hari yang perlu dilakukan terasa berat karena berkurangnya minat, fokus, dan dorongan.

Apa bedanya languishing dengan depresi?

Languishing dan depresi memiliki sejumlah gejala yang mirip. Namun, keduanya bukan kondisi yang sama.

Depresi merupakan gangguan mental klinis yang tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Sementara itu, languishing bukan diagnosis gangguan mental klinis.

Manly menjelaskan bahwa depresi merupakan kondisi yang dapat didiagnosis secara klinis, sedangkan languishing lebih menggambarkan keadaan ketika seseorang tidak berkembang secara optimal dalam kehidupannya.

Metzger menggunakan perumpamaan termometer untuk menjelaskan perbedaan tersebut. Languishing berada pada titik nol atau kondisi netral, ketika seseorang tidak merasakan emosi positif maupun negatif secara kuat. Sementara depresi berada di bawah titik tersebut dan dapat melibatkan perasaan putus asa.

Meski berbeda, languishing dapat berkembang menjadi depresi klinis. Namun, tidak semua orang yang mengalami languishing memenuhi kriteria diagnosis depresi, begitu pula sebaliknya.

10 cara membantu mengatasi languishing

Para ahli menyarankan sejumlah langkah untuk membantu seseorang keluar dari perasaan hambar dan kembali menemukan semangat dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, mulai dari langkah kecil. Susun daftar prioritas dan pilih dua atau tiga hal penting untuk diselesaikan setiap hari. Target sederhana, seperti berjalan kaki selama 15 menit atau membersihkan satu ruangan, bisa menjadi permulaan.

Kedua, berikan penghargaan kepada diri sendiri. Setelah menyelesaikan pekerjaan atau target, luangkan waktu untuk menikmati kegiatan yang disukai. Penghargaan sederhana dapat membantu membangun pola pikir yang lebih positif.

Ketiga, buat rencana yang menyenangkan. Jadwalkan kegiatan yang dapat dinantikan, seperti bertemu teman, menonton pertunjukan, mencoba tempat makan baru, atau merencanakan perjalanan.

Keempat, bergerak setiap hari. Aktivitas fisik seperti berjalan kaki, yoga, menari, atau olahraga ringan dapat membantu memperbaiki suasana hati. Pilih kegiatan yang nyaman agar lebih mudah dilakukan secara rutin.

Kelima, cari dukungan dari orang tepercaya. Bercerita kepada keluarga atau teman dapat membantu seseorang menghadapi masa sulit. Jika diperlukan, cari dukungan kelompok atau bantuan tenaga kesehatan mental.

Keenam, lakukan kebaikan untuk orang lain. Membantu tetangga, menghubungi keluarga, atau mengikuti kegiatan sukarela dapat memberikan pengalaman positif dan memperkuat hubungan sosial.

Ketujuh, kenali hal yang membuat bahagia. Catat aktivitas yang memberikan kegembiraan, kemudian masukkan ke dalam rutinitas mingguan. Upaya ini membantu seseorang kembali memberi ruang bagi pengalaman positif.

Kedelapan, jalin hubungan dengan orang terdekat. Luangkan waktu bersama orang-orang yang membuat nyaman. Kegiatan sederhana seperti minum kopi, menonton film, atau memasak bersama dapat menjadi sumber kegembiraan.

Kesembilan, luangkan waktu di luar ruangan. Berada di alam terbuka dan mendapatkan cahaya alami setiap hari dapat membantu mengurangi stres. Paparan lingkungan alami selama 10 menit juga disebut dapat membantu meningkatkan perasaan tenang dan bahagia.

Kesepuluh, akui perasaan yang sedang dialami. Jangan menyalahkan diri sendiri karena kehilangan semangat. Mengenali dan menerima kondisi tersebut merupakan langkah awal untuk melakukan perubahan.

Manly mengingatkan agar seseorang tidak memaksakan diri untuk segera keluar dari kondisi languishing. Mengakui kesulitan yang sedang dihadapi bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari upaya memahami diri sendiri dan mulai mengambil langkah positif. (*)

Sumber