Jakarta, Jurnas.com - Iran memperingatkan kemungkinan Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer meski kapal-kapal perang Washington dilaporkan telah ditarik dari kawasan tersebut.
Teheran menegaskan setiap serangan baru akan dibalas secara tegas oleh angkatan bersenjatanya.
Peringatan itu disampaikan Juru Bicara Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia pada Jumat, seperti dilaporkan kantor berita ISNA. Dia mengatakan kemungkinan aksi militer baru AS tidak dapat dikesampingkan.
Akraminia bahkan menilai Washington berpotensi kembali menyerang Iran karena menghadapi kesulitan politik. Namun, dia menegaskan Teheran telah menyiapkan respons terhadap segala bentuk agresi militer.
"Setiap serangan baru AS akan menghadapi respons tegas dari angkatan bersenjata Iran," demikian peringatan Akraminia.
Mengacu pada instruksi Pemimpin Tertinggi Iran, Akraminia mengatakan respons militer terhadap serangan harus dilakukan secara cepat, efektif, dan tanpa batasan geografis.
Dia juga memperingatkan bahwa pangkalan serta kepentingan AS di luar kawasan Asia Barat dan Teluk berada dalam jangkauan rudal dan drone Iran. Dengan demikian, fasilitas maupun kepentingan Washington di wilayah tersebut berpotensi menjadi sasaran apabila serangan kembali dilancarkan.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ancaman balasan Iran tidak hanya diarahkan pada fasilitas militer AS di sekitar kawasan Teluk. Akraminia menyebut jangkauan rudal dan drone negaranya memungkinkan serangan terhadap target AS di wilayah yang lebih luas.
Selain memperingatkan kemungkinan konflik kembali pecah, Akraminia menegaskan Selat Hormuz masih berada di bawah kendali strategis Iran. Jalur pelayaran penting tersebut, menurut dia, tidak akan dibuka kembali sebelum persyaratan yang diajukan Teheran dipenuhi.
Dia juga memastikan angkatan bersenjata Iran tetap dalam kondisi siaga penuh untuk mempertahankan negara.
Ketegangan tersebut berlangsung di tengah konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran pada 28 Februari.
Gencatan senjata kemudian tercapai pada April, disusul kesepahaman pada Juni untuk merampungkan kesepakatan damai.
Namun, upaya tersebut belum menghasilkan penyelesaian konflik. Situasi keamanan di kawasan masih dibayangi kemungkinan pecahnya kembali konfrontasi militer, sementara Iran tetap mempertahankan ancamannya untuk membalas jika AS melancarkan serangan baru. (*)
Sumber: Anadolu









