News

Janji ke Trump, PM Irak Pastikan Tindak Milisi Peluncur Rudal

PM Irak Ali Al-Zaidi menegaskan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa wilayah negaranya tidak akan diizinkan untuk digunakan sebagai titik peluncuran rudal.
Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi menyampaikan pidato menandai penarikan pasukan koalisi pimpinan AS dari Irak, di Baghdad pada bulan September (Via Reuters)

Jakarta, Jurnas.com - Perdana Menteri Irak Ali Al-Zaidi menegaskan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa wilayah negaranya tidak akan diizinkan untuk digunakan sebagai titik peluncuran serangan terhadap negara-negara tetangga di kawasan.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Al-Zaidi dalam sambungan telepon bersama Trump pada Kamis (5/11/2026) guna membahas dinamika keamanan dan perkembangan situasi di Timur Tengah. Langkah ini diambil setelah negara-negara tetangga Irak di kawasan Teluk menuding kelompok milisi yang setia kepada Teheran menggunakan wilayah Irak untuk melancarkan serangan sejak pecahnya perang antara Iran dan AS.

"Perdana Menteri menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan negara dan menegaskan agar wilayah Irak tidak dijadikan titik peluncuran serangan terhadap negara-negara tetangga," demikian bunyi pernyataan resmi Kantor Perdana Menteri Irak di Baghdad.

Dalam kesempatan tersebut, Al-Zaidi berjanji akan menindak tegas kelompok-kelompok milisi bersenjata guna menghentikan peluncuran rudal serta pesawat nirawak (drone). Beberapa serangan milisi tersebut sebelumnya sempat menghantam infrastruktur minyak serta pangkalan militer AS.

Selain membahas kedaulatan wilayah, pembicaraan kedua pemimpin mencakup upaya mendukung stabilitas regional, memprioritaskan diplomasi, serta mencegah konflik agar tidak semakin meluas.

Komunikasi ini berlangsung ketika Trump tengah mempertimbangkan serangan militer lanjutan, lebih dari delapan bulan sejak AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran. Konflik yang memanas tersebut berdampak berat bagi perekonomian Irak, di mana pemerintah Irak bulan lalu mencatat estimasi kerugian mencapai 60 miliar dolar AS yang sebagian besar dipicu oleh gangguan pada ekspor minyak.