Jakarta, Jurnas.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan sinyal adanya kemajuan signifikan menuju potensi kesepakatan dengan Iran, seiring langkah Teheran yang mendorong percepatan usulan gencatan senjata.
"Tampaknya hal itu berjalan sangat baik. Saya menduga itulah alasan mengapa harga minyak turun karena orang-orang telah mengetahuinya," ujar Trump saat berbicara di Lincoln Memorial Reflecting Pool, Washington, DC. Lewat unggahan di platform Truth Social, Trump mengklaim bahwa Teheran menginginkan penyelesaian "secepat mungkin" serta menambahkan bahwa kesepakatan tersebut sangat mungkin terjadi. Trump juga mencatat bahwa penurunan harga minyak hingga hampir 10 dolar AS per barel dipicu oleh ekspektasi bahwa perang akan segera berakhir.
Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi bahwa Washington telah melakukan sejumlah pembicaraan positif dengan pihak Iran dan merasa optimistis terhadap prospek negosiasi. Meski demikian, Vance menegaskan bahwa AS tidak memberikan tenggat waktu khusus bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan. Ia menekankan bahwa setiap perjanjian membutuhkan komitmen yang tegas dan terverifikasi bahwa Iran tidak akan membangun kembali program nuklirnya.
Di pihak lain, Pemerintah Iran menyatakan bahwa proposal gencatan senjata tujuh langkah mereka kini dapat diimplementasikan hanya dalam waktu dua hari, lebih cepat dari skema awal selama satu minggu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menjelaskan bahwa usulan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara cepat serta pemulihan proses negosiasi program nuklir.
Baghaei menegaskan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, keamanan di Selat Hormuz dapat dipulihkan dan proses negosiasi dapat dimulai dalam waktu singkat. Adapun syarat-syarat yang diajukan Teheran mencakup penghentian blokade laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi, jaminan penghentian serangan, serta pencapaian gencatan senjata regional secara menyeluruh, khususnya di Lebanon.
Langkah percepatan diplomasi ini mendapat persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, yang telah memberikan wewenang penuh kepada pemerintah untuk mengakselerasi pembicaraan demi mengakhiri perang. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tetap bersiap menghadapi jalur diplomasi maupun konfrontasi militer, dengan proses mediasi tidak langsung yang terus difasilitasi oleh Qatar dan Pakistan.






