Singapura, Jurnas.com - Maskapai Singapore Airlines (SIA) memperpanjang pembatalan penerbangan SQ494 rute Singapura-Dubai dan SQ495 untuk rute sebaliknya, hingga Februari 2027 mendatang.
Dalam pengumuman resmi yang disampaikan maskapai nasional asal Singapura pada Jumat (30/10) tersebut, pembatalan ini diperpanjang menyusul situasi geopolitik di Timur Tengah yang kian tidak menentu.
"Karena situasinya masih berubah-ubah, penerbangan SIA lainnya mungkin akan terpengaruh. SIA menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan yang terdampak atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan," demikian bunyi pernyataan tersebut, dikutip dari Straits Times.
Akibat pembatalan ini, pelanggan yang memesan melalui platform maskapai dapat mengajukan pengembalian dana penuh (refund). Sementara penumpang yang melakukan pemesanan melalui platform lain harus menghubungi agen perjalanan atau maskapai mitra secara langsung.
Menurut laporan Time Out Dubai, SIA bukan satu-satunya maskapai yang membatalkan rute penerbangan hingga tahun depan. Air Canada yang beroperasi dari Terminal 3 Emirates di Bandara Internasional Dubai hingga akhir Maret 2027.
Cathay Pacific, maskapai terbesar asal Hong Kong membatalkan semua penerbangan ke dan dari Dubai hingga Minggu, 31 Januari 2027. Adapun perusahaan penerbangan Belanda, KLM, menghentikan rute yang sama sampai 27 Maret 2027.
Konflik Belum Berakhir
Diketahui, gangguan penerbangan dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari 2026, dan konflik tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Ketegangan di kawasan itu meningkat menyusul serangan Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap berbagai lokasi di Arab Saudi, termasuk bandara dan lokasi pengeboran minyak.
Pada Rabu lalu, kelompok Houthi menyerang bandara Aden, Yaman dengan dua rudal balistik. Serangan itu menyebabkan korban luka di kalangan warga sipil dan kerusakan material, menurut keterangan juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman, Kolonel Majiz Al-Nuzaily.
"Serangan ini merupakan bagian dari serangkaian serangan berulang yang dilakukan oleh milisi terhadap warga sipil dan infrastruktur vital, yang mengancam nyawa warga sipil dan keselamatan navigasi udara," ujar Al-Nuzaily.
"Hal ini menggarisbawahi agenda permusuhan yang terus-menerus diusung milisi tersebut dan penargetan berkelanjutan mereka terhadap aset dan kepentingan vital rakyat Yaman," dia menambahkan.





