News

Korut Kecam Provokasi Korsel-AS dalam Latihan Militer

Korut mengecam aksi provokasi melalui latihan militer gabungan Korsel dan AS, yang dinilai meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.
Perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan (Foto: Yonhap)

Pyongyang, Jurnas.com - Korea Utara (Korut) mengecam aksi provokasi melalui latihan militer gabungan Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS), Freedom Flag. Dikatakan, latihan tersebut meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea.

"Tidak ada batasan bagi Korea Utara dalam menentukan langkah untuk mempertahankan daya tangkal yang kuat, yang mampu menghadapi secara efektif seluruh ancaman militer dari Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Korut melalui KCNA, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Jumat (30/10).

Provokasi yang dimaksud Korut ialah latihan pertahanan udara gabungan Korsel dan AS sejak Senin ini di Pangkalan Udara Kunsan, yang dijadwalkan berlangsung hingga 6 November 2026 mendatang.

Menurut keterangan Kementerian Pertahanan Korsel, latihan tersebut melibatkan jet tempur siluman termasuk F-35A milik Seoul dan pesawat tempur supersonik F-35B Korps Marinir AS.

Sementara itu, Korut pada Kamis (29/10) kemarin menembakkan sekitar 10 rudal balistik jarak pendek ke arah laut lepas pantai timur, menurut pernyataan militer Korsel. Peluncuran itu menyusul dua rangkaian peluncuran sebelumnya pada awal Oktober.

Rudal-rudal tersebut diluncurkan sekitar pukul 12.30 siang waktu setempat dari wilayah di sekitar Wonsan, pantai timur Korut. Dan Kementerian Pertahanan Jepang juga menyatakan proyektil rudal balistik tersebut jatuh di luar zona ekonomi eksklusifnya.

Diketahui, hubungan Korut dan Korsel di Semenanjung Korea kian memanas belakangan ini. Sejak awal pekan ini, pemimpin Korut, Kim Jong Un menyiagakan satu uni meriam artileri kaliber 122 milimeter di garis perbatasan.

Selain menyiagakan senjata artileri berat, tiga unit kendaraan lapis baja Korut terlihat mengarahkan laras meriamnya tepat ke arah Korsel. Di saat bersamaan, puluhan prajurit militer Korut terpantau terus melanjutkan proyek pembangunan pagar pembatas serta pemasangan ranjau darat di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ).

Pakar studi Korea dari Universitas Kyungnam di Seoul, Lim Eul-chul, menilai pergerakan ini seolah Korut sengaja memberi sinyal bahwa Pyongyang berniat menegakkan kebijakan perbatasan melalui kekuatan alih-alih dialog atau negosiasi.