Naypyitaw, Jurnas.com - Utusan ASEAN untuk Myanmar sekaligus Menteri Luar Negeri (Menlu) Filipina, Ma Teresa Lazaro, bertemu dengan Menlu Myanmar, Tin Maung Swe di ibu kota Naypyitaw, pada Kamis (29/10) kemarin.
Dikutip dari CNA pada Jumat (30/10), kunjungan tersebut turut membahas perang saudara dan akses kemanusiaan yang masih berlangsung hingga kini, di tengah pengucilan yang dilakukan negara-negara anggota ASEAN lainnya.
Seperti sebelumnya, pemerintah Myanmar yang didukung militer menginginkan normalisasi hubungan dengan ASEAN, setelah kepemimpinannya dilarang menghadiri KTT pada 2021, karena gagal meredakan konflik menyusul kudeta militer.
Surat kabar milik pemerintah Myanmar, Global New Light, pada Jumat ini juga melaporkan bahwa Lazaro membahas cara-cara untuk memulihkan peran dan hak asli Myanmar di dalam ASEAN.
Sementara itu, pernyataan resmi dari kantor Lazaro mengenai perjalanannya tidak menyebutkan sama sekali tentang pembahasan pemulihan peran Myanmar.
Lazaro berupaya untuk bertemu dengan peraih Nobel Aung San Suu Kyi, yang ditahan sejak dia digulingkan dari kekuasaan dalam kudeta. Kantor Lazaro tidak menyebutkan adanya pertemuan tersebut.
"Saya menanyakan tentang kondisi Daw Aung San Suu Kyi dan tanggapannya cukup positif bahwa beliau baik-baik saja," kata Lazaro.
Rencana Perdamaian ASEAN
Sebagaimana diketahui, pemerintah Myanmar pada Agustus lalu mengatakan bahwa tidak ada lagi kebutuhan akan utusan khusus ASEAN untuk negara tersebut. Myanmar telah dilanda kekacauan sejak kudeta, yang menyebabkan perang saudara yang telah menewaskan sekitar 100.000 orang dan menyebabkan lebih dari 3,5 juta orang mengungsi.
Tin Maung Swe mengatakan Myanmar sedang berupaya menerapkan rencana perdamaian lima poin ASEAN, sesuai dengan kepentingan nasional dan kedaulatannya.
Adapun kelima poin tersebut ialah:
Pertama, kekerasan di Myanmar harus segera dihentikan dan semua pihak harus menahan diri sepenuhnya.
Kedua, dialog konstruktif antara semua pihak terkait harus dimulai untuk mencari solusi damai demi kepentingan rakyat.
Ketiga, seorang utusan khusus dari ketua ASEAN akan memfasilitasi mediasi proses dialog, dengan bantuan sekretaris jenderal ASEAN.
Keempat, ASEAN akan memberikan bantuan kemanusiaan melalui Pusat AHA.
Kelima, utusan khusus dan delegasi akan mengunjungi Myanmar untuk bertemu dengan semua pihak terkait.





