Jakarta, Jurnas.com - Keanekaragaman hutan tropis Asia Tenggara ternyata memiliki akar evolusi yang jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya. Penelitian fosil ambar mengungkap bahwa sebagian kekayaan flora kawasan ini kemungkinan berasal dari daratan purba yang terpisah dari Australia sekitar 150 juta tahun lalu.
Daratan tersebut dikenal sebagai West Burma Block, yakni pecahan kerak bumi purba dari wilayah barat laut Australia yang perlahan bergerak ke utara melintasi Samudra Tethys. Setelah mengapung selama puluhan juta tahun, daratan itu akhirnya menyatu dengan Asia Tenggara sekitar 50 juta tahun lalu.
Dalam perjalanan panjang tersebut, daratan itu ternyata membawa kekayaan tumbuhan tropis yang berkembang secara relatif terisolasi. Flora purba inilah yang diduga ikut membentuk fondasi keanekaragaman tumbuhan di Asia Tenggara hingga saat ini.
Temuan tersebut diperoleh melalui penelitian terhadap lebih dari 3.000 spesimen fosil yang terawetkan dalam batu ambar Burma. Para peneliti mengidentifikasi sedikitnya 392 tipe morfologi tumbuhan berbunga, menjadikannya salah satu kumpulan fosil tumbuhan paling beragam yang tercatat dari periode Kapur Awal hingga Pertengahan.
“Terawetkan dalam detail tiga dimensi yang luar biasa, fosil-fosil ini mencakup bunga, buah, daun, dan biji yang memberikan bukti adanya komunitas tumbuhan tropis yang berkembang pesat sekitar 100 juta tahun lalu,” kata salah satu penulis penelitian, Byron Lamont, dari Curtin University.
Daratan Australia yang Mengapung di Dekat Khatulistiwa
Kisah ini bermula sekitar 150 juta tahun lalu ketika sebagian kerak bumi di barat laut Australia terpisah dari daratan induknya. Pecahan tersebut kemudian bergerak perlahan ke utara melintasi samudra purba selama sekitar 100 juta tahun.
Hal yang membuat perjalanan West Burma Block menarik adalah posisinya yang tetap berada di dekat garis khatulistiwa selama jutaan tahun. Kondisi tropis yang berlangsung dalam waktu panjang diduga menyediakan lingkungan yang mendukung kelangsungan hidup dan perkembangan berbagai kelompok tumbuhan purba.
Isolasi geografis juga berperan penting. Karena terpisah dari daratan besar lainnya, flora di wilayah tersebut memiliki kesempatan berkembang dengan lebih sedikit pertukaran tumbuhan dari kawasan lain.
Kelompok tumbuhan yang mungkin telah tergantikan di wilayah lain justru dapat bertahan di daratan ini. Dalam jangka waktu puluhan juta tahun, kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya keragaman tumbuhan yang cukup besar.
“Karena West Burma Block bergerak ke utara sambil tetap berada di dekat Khatulistiwa selama puluhan juta tahun, lingkungan tropis yang berlangsung lama ini menyediakan tempat perlindungan bagi garis keturunan tumbuhan purba untuk bertahan hidup dan berkembang,” ujar Lamont.
3.000 Fosil Mengungkap Kekayaan Flora Purba
Batu ambar Burma menjadi sumber penting dalam penelitian kehidupan purba karena mampu mengawetkan organisme dengan detail tiga dimensi. Berbeda dengan fosil yang tertekan dalam lapisan batuan, material ini dapat mempertahankan struktur biologis secara lebih utuh.
Dari lebih dari 3.000 spesimen yang diteliti, para ilmuwan menemukan sedikitnya 392 tipe morfologi tumbuhan berbunga. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa komunitas tumbuhan tropis pada periode Kapur, sekitar 99 juta tahun lalu, telah memiliki keragaman yang tinggi.
Pada masa itu, dinosaurus masih menjadi kelompok hewan dominan di daratan-daratan besar. Namun, fosil tumbuhan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem tropis di sekitar Khatulistiwa juga telah berkembang dengan kompleks.
Hasil penelitian ini sekaligus menantang pandangan lama bahwa ekosistem tumbuhan berbunga yang sangat beragam di Asia Tenggara sebagian besar baru terbentuk pada periode yang jauh lebih muda.
“Temuan ini menantang pandangan lama bahwa ekosistem tumbuhan berbunga yang beragam di Asia Tenggara sebagian besar berasal dari periode yang jauh lebih baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan berbunga telah mengalami diversifikasi secara luas di lingkungan khatulistiwa selama periode Kapur,” jelas Lamont.
Pertemuan Flora Purba Membentuk Fondasi Hutan Asia Tenggara
Sekitar 50 juta tahun lalu, perjalanan West Burma Block berakhir ketika daratan tersebut menyatu dengan Asia Tenggara. Pada periode yang hampir bersamaan, wilayah ini juga bertemu dengan kelompok tumbuhan yang datang bersama India ketika lempeng benua tersebut menyelesaikan proses tumbukannya dengan Asia.
Pertemuan berbagai garis keturunan tumbuhan dengan sejarah evolusi berbeda menciptakan peluang terjadinya pencampuran flora dan diversifikasi lebih lanjut.
Proses tersebut diduga ikut menyediakan fondasi evolusi bagi hutan-hutan dengan keanekaragaman tumbuhan luar biasa yang kemudian berkembang di Asia Tenggara.
Selama ini, penjelasan umum mengenai kekayaan hutan kawasan tersebut lebih banyak menempatkan proses pembentukannya pada periode Kenozoikum, setelah zaman dinosaurus. Perubahan geografi kepulauan, termasuk habitat yang terpisah dan kembali terhubung selama jutaan tahun, dipandang sebagai salah satu pendorong utama diversifikasi.
Penelitian terbaru ini tidak menggantikan penjelasan tersebut, tetapi menambahkan lapisan sejarah evolusi yang jauh lebih tua. Sebagian akar keanekaragaman tumbuhan Asia Tenggara ternyata mungkin sudah berkembang di sebuah pecahan daratan Australia sebelum wilayah itu bergabung dengan kawasan Asia.
“Fosil-fosil ini memberikan gambaran langka tentang dunia purba tersebut dan membantu menjelaskan akar evolusi yang sangat dalam dari hutan tropis Asia Tenggara,” kata Lamont.
Penelitian mengenai fosil tumbuhan dalam batu ambar Burma ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Ecology & Evolution. (*)
Sumber: Earth






