Singapura, Jurnas.com - Maskapai penerbangan Singapore Airlines (SIA) mengumumkan komitmennya untuk membeli bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF) yang diproduksi dari olahan gas buangan industri, sebagai bagian dari strategi jangka panjang maskapai nasional Singapura tersebut demi mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2050 mendatang.
Dalam kesepakatan komersial yang telah ditandatangani, SIA berkomitmen untuk membeli hingga 4.800 ton bahan bakar penerbangan berkelanjutan generasi baru dari perusahaan Aether Beacon selama periode tiga tahun. Pengiriman perdana bahan bakar ramah lingkungan tersebut dijadwalkan akan mulai mengudara secara bertahap pada 2028.
Bahan bakar penerbangan ini diproduksi dengan mengadopsi teknologi mutakhir yang sanggup mengonversi bahan baku karbon limbah, seperti biomestana dan gas buang industri, menjadi bahan bakar jet cair. Inovasi tersebut menawarkan alternatif baru di luar jalur pengolahan lipid yang pasokan bahan bakunya jauh lebih terbatas.
Dikutip dari CNA pada Rabu (28/10), pengembang menyatakan bahwa metode produksi inovatif ini sanggup memangkas emisi gas rumah kaca hingga lebih dari 70 persen jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil konvensional.
Fasilitas produksi komersial bertajuk Project Beacon yang berlokasi di Pulau Bukom kini tengah dikembangkan secara intensif guna memenuhi permintaan pasar.
"Mendukung pengembangan dan adopsi SAF, serta mengamankan pasokan masa depan, merupakan bagian integral dari ambisi SIA untuk mencapai emisi nol karbon bersih pada tahun 2050," kata Kepala Pejabat Keberlanjutan SIA, Lee Wen Fen.
Selain itu, pembelian ini membuktikan adanya permintaan riil bagi jalur produksi bahan bakar rendah karbon di Singapura. "Kami akan terus bekerja sama dengan mitra di seluruh dunia untuk meningkatkan produksi SAF, memperkuat ekosistem keberlanjutan industri penerbangan, dan mendukung transisi menuju perjalanan udara yang lebih berkelanjutan," dia menambahkan.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) sekaligus pendiri Aether Fuels, Conor Madigan, menyambut baik kemitraan mengikat yang terjalin bersama salah satu maskapai terbaik dunia tersebut.
"Perjanjian mengikat ini merupakan langkah penting berikutnya dan sinyal kuat dari komitmen permintaan maskapai global terkemuka, tepatnya jenis kolaborasi yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi komersial guna membawa jalur SAF baru ke skala besar," ujar dia.
Langkah pembelian bahan bakar ini makin mempertegas target SIA beserta anak perusahaannya, Scoot, untuk memenuhi lima persen kebutuhan bahan bakar total dari SAF pada 2030. Sebelumnya, kedua maskapai tersebut juga telah menyetujui pembelian 1.000 ton SAF yang diproduksi oleh pabrikan Neste di Singapura.






