https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Dihadapan Anggota BEM, Bamsoet Paparkan Empat Alasan Penting Perlunya Merawat Kebhinekaan

Aliyudin Sofyan | Kamis, 01/10/2020 18:49 WIB



Bahkan bila berani jujur pada diri sendiri, dalam satu golongan yang sama pun, masih dapat kita temukan adanya perbedaan. Ketua MPR Bambang Soesatyo mengisi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada Anggota BEM dari lima Universitas Jakarta secara virtual, dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Kamis (1/10/20). (Foto: MPR)

Jakarta, Jurnas.com - Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) memaparkan empat alasan penting mengapa generasi muda perlu merawat kebhinekaan. Pertama, karena keberagaman adalah fitrah kebangsaan yang tidak dapat diingkari dan pungkiri.

Sejak bangsa Indonesia mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara yang hidup dalam kemajemukan budaya, suku, ras, dan agama, sejak saat itulah konsep kebhinekaan telah menyatukan semuanya dalam satu ikatan kebangsaan.

"Kedua, karena sesungguhnya perbedaan adalah sesuatu yang alamiah dan telah menjadi ketentuan ilahiah. Allah menciptakan kita beraneka ragam. Bahkan bila berani jujur pada diri sendiri, dalam satu golongan yang sama pun, masih dapat kita temukan adanya perbedaan," ujar Bamsoet saat mengisi Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada Badan Koordinasi Nasional Forum Komunikasi Mahasiswa Kekaryaan (Bakornas Fokusmaker) dan Anggota BEM dari lima Universitas Jakarta secara virtual, dari Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Kamis (1/10/20).

Baca juga :
Lestari Moerdijat: Bangun Ekosistem Literasi dengan Langkah Nyata

Turut serta Sekjen Bakornas Fokusmaker Azka Aufary Ramli, Ketua Presidium Mahasiswa Universitas Trisakti Dino Ardiansyah, Ketua BEM Universitas Krisnadwipayana Dwiki Hendra Saputra, Ketua BEM Universitas MH Thamrin AKA Geys Amar, dan Ketua BEM Universitas Muhammadiyah Ronaldo Zulfikar.

Bamsoet menambahkan, alasan ketiga karena ancaman terhadap nilai-nilai kebhinekaan sangat nyata. Dalam perjalanan sebagai sebuah bangsa, sikap intoleransi terhadap keberagaman selalu mewarnai kehidupan kebangsaan. Misalnya pada saat berlangsungnya kontestasi politik yang terkadang memanfaatkan politik identitas sebagai alat perjuangan.

Baca juga :
MPR Dorong Nasionalisme Generasi Muda Lewat LKBB-PB NTB 2026 di Mataram

"Sebagai gambaran, dalam kurun waktu tahun 2014 hingga 2019, SETARA Institute mencatat terjadinya 846 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama. Artinya, rata-rata setiap bulan terjadi 14 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama. Ini adalah gambaran nyata bahwa penghormatan terhadap kebhinekaan belum sepenuhnya dapat diwujudkan," kata Bamsoet.

Bamsoet melanjutkan, alasan keempat, dengan kemajemukan dan kondisi geografis serta kekayaan sumber daya alam yang menempatkan Indonesia sebagai `center of gravity` komunitas global.

Baca juga :
Eddy Soeparno Hormati SMAN 1 Pontianak, Tegaskan Tak Boleh Ada Intimidasi

Hal ini menjadikan bangsa Indonesia rapuh terhadap pengaruh dan infiltrasi asing. Maka penghormatan terhadap nilai kebinekaan dalam bingkai NKRI menjadi syarat mutlak untuk menjaga kedaulatan kita sebagai sebuah bangsa.

"Gagasan Nawa Cita yang menjadi pondasi perjuangan Presiden Joko Widodo sejak memimpin Indonesia pada tahun 2014, pada hakikatnya adalah konsep jawaban atas berbagai problematika kebangsaan yang selama ini kita hadapi, salah satunya terkait merebaknya intoleransi dan krisis kepribadian bangsa. Gagasan Nawa Cita sendiri merupakan penjabaran dari Trisakti yang diambil dari buah pikiran Bung Karno, yaitu berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan," ujar Bamsoet.

Bamsoet menjelaskan, upaya merawat kebhinekaan sangat jelas terlihat dari berbagai butir dalam Nawa Cita.

Antara lain, menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.

Selain, melakukan revolusi karakter bangsa, serta memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.

"Selaras dengan hal tersebut, MPR RI senantiasa konsisten melaksanakan pembangunan karakter bangsa melalui pemasyarakatan Empat Pilar MPR RI kepada seluruh elemen masyarakat. Empat Pilar MPR adalah Pancasila sebagai dasar negara, landasan ideologi, falsafah, etika moral serta alat pemersatu bangsa, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai landasan konstitusional, negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) sebagai konsensus kebangsaan serta bhinneka tunggal ika sebagai semangat pemersatu dalam kemajemukan bangsa," kata Bamsoet.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kinerja MPR Bambang Soesatyo BEM Nawa Cita

Terpopuler

Senin, 13/07/2026 02:02 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Inggris vs Argentina

Minggu, 12/07/2026 05:05 WIB
Olahraga

Statistik Head to Head Timnas Prancis vs Spanyol

Senin, 13/07/2026 04:04 WIB
Olahraga

Prediksi Starting XI Timnas Prancis vs Spanyol

Minggu, 12/07/2026 06:06 WIB
Gaya Hidup

12 Contoh Ucapan Hari Koperasi Indonesia 2026 yang Penuh Makna

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777