Penyanyi Ria Resty Fauzy di konser spesial 40 Tahun Berkarya. (Foto: Jurnas/Ist).
Jakarta, Jurnas.com- Empat dekade bertahan di industri musik bukan sekadar soal usia karier. Lebih dari itu, karena nama tetap hidup di hati pendengarnya. Setelah melewati berbagai fase industri musik Indonesia, penyanyi Ria Resty Fauzy yang pernah menjadi ikon pop era 1980–1990 ini memilih merayakan perjalanan panjangnya lewat konser spesial `40 Tahun Berkarya Ria Resty Fauzy`.
Namun, Ria tidak ingin konser ini hanya menjadi panggung nostalgia, Ia justru menjadikannya sebagai titik awal babak baru dengan merilis single terbaru `Rindu yang Menyiksa`. Sebuah langkah berani yang menegaskan bahwa perjalanan musisi sejati tidak pernah mengenal kata selesai. Di saat banyak nama hanya hidup sebagai kenangan, Ria Resty Fauzy memilih kembali bersaing, membuktikan bahwa kualitas dan dedikasi selalu menemukan jalannya untuk tetap relevan.
Single `Rindu yang Menyiksa` ciptaan Dommy Alen dan diproduseri Ria Resty Fauzy ini menjadi simbol kebangkitan baru bagi perjalanan musikal Ria Resty Fauzy. Lagu ini seolah menyalakan kembali cahaya sebuah bintang yang sempat meredup setelah lebih dari dua dekade hiatus dari industri rekaman.
Dengan karakter vokal khas yang nyaris tak berubah, Ria menghadirkan nuansa hangat yang langsung membawa pendengar kembali ke masa ketika lagu-lagu pop melankolis menjadi soundtrack kehidupan banyak orang. Balutan aransemen pop yang emosional, sederhana, namun kuat secara rasa, menjadi identitas yang selama ini melekat pada dirinya.
Bukan sekadar mengandalkan nostalgia, lagu `Rindu yang Menyiksa` hadir sebagai bukti kualitas musik yang jujur dan penuh perasaan, masih memiliki tempat di tengah derasnya perubahan selera pasar. Ria Resty Fauzy bukan nama asing dalam sejarah musik populer Indonesia. Di era keemasannya pada dekade 1980 hingga 1990-an, ia melahirkan sederet lagu yang menjelma menjadi mega hits, seperti `Cintaku Sedalam Lautan Atlantik`, `Sinar Matamu Bagai Besi Sembrani`, `Cintaku Sampai ke Ethiopia`, `Sepatu Dari Kulit Rusa` hingga `Kututup Layar Cintaku`.
Lagu-lagu tersebut bukan hanya sukses di dalam negeri, tetapi juga mengantarkan namanya dikenal luas di Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Singapura. Beberapa penghargaan yang pernah didapat diantaranya 5 Golden Record, BASF Awards 1987 untuk lagu `Cintaku Sampai Ke Euthiopia` dan HDX Awards untuk lagu `Kututup Layar Cintaku` di tahun 1988.
Konsistensi, karakter vokal yang kuat, dan kemampuan menyampaikan emosi melalui setiap lirik menjadikan Ria sebagai salah satu ikon musik pop Indonesia yang tetap dikenang lintas generasi. Kemegahan konser `40 Tahun Berkarya Ria Resty Fauzy` semakin lengkap dengan kehadiran sederet musisi legendaris era 1980–1990, Ada Obbie Messakh, Endang S Taurina, Ratih Purwasih, Lies Meinawati, Julian Dekrita, Etrie Jayanti dan Gandhi S.
Mereka tampil membawakan sejumlah lagu-lagu hits yang pernah membesarkan nama Ria Resty Fauzy. Menciptakan malam penuh kenangan yang sarat emosi, sekaligus menjadi penghormatan atas dedikasinya di dunia musik Indonesia. Konser di Ballroom Golden Boutique Hotel Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu (27/6/2026), ini menjadi perayaan istimewa yang menyatukan nostalgia, apresiasi, dan semangat untuk kembali melangkah ke masa depan.
"Bagi saya, kembali bernyanyi bukan soal mengejar popularitas atau materi," kata Ria Resty Fauzy.
"Musik sudah menjadi bagian dari hidup saya selama 40 tahun, dan panggung selalu punya tempat yang tidak bisa digantikan apapun," lanjutnya.
“Saya ingin kembali berkarya, kembali menciptakan lagu yang bisa diterima masyarakat, dan semoga `Rindu Yang Menyiksa` menjadi awal perjalanan baru itu," ucap Ria Resty Fauzy.
"Saya percaya, selama masih ada cinta dari pendengar, seorang penyanyi tidak pernah benar-benar selesai," pungkasnya.
Selasa, 30/06/2026 21:09 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Selasa, 30/06/2026 20:13 WIB