Ilustrasi suhu panas ekstrem. (Foto: VOI)
Jakarta, Jurnas.com - Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa memasuki fase paling berbahaya. Suhu yang jauh di atas normal tidak hanya memicu kebakaran hutan di sejumlah negara, tetapi juga telah menyebabkan sedikitnya 1.300 kematian berlebih (excess deaths) dalam waktu kurang dari dua pekan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Italia dan kawasan Balkan menjadi wilayah yang paling terdampak. Otoritas setempat mengeluarkan peringatan cuaca tingkat tertinggi, sementara para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim akibat aktivitas manusia membuat fenomena panas ekstrem seperti ini semakin sering dan semakin mematikan.
Dikutip dari Aljazera, pemerintah Italia pada Senin menetapkan 22 kota dalam status peringatan merah akibat suhu ekstrem, mulai dari Bolzano di utara hingga Palermo di Pulau Sisilia.
Cuaca panas juga terasa di Kota Vatikan. Ribuan peziarah yang menghadiri doa Angelus bersama Paus Leo terlihat menggunakan kipas dan payung untuk melindungi diri dari sengatan matahari saat perayaan Hari Raya Santo Petrus dan Santo Paulus di Roma.
Menurut ahli meteorologi Angkatan Udara Italia, Daniele Mocio, suhu udara saat ini diperkirakan tetap berada 8 hingga 10 derajat Celsius di atas rata-rata normal selama beberapa hari ke depan. Artinya, ancaman gelombang panas masih jauh dari selesai.
Dampak serupa juga dirasakan di kawasan Balkan. Layanan meteorologi Kroasia mengeluarkan peringatan merah di sejumlah wilayah, termasuk ibu kota Zagreb, serta kota wisata Split dan Dubrovnik.
Di Pulau Vis di Laut Adriatik, puluhan petugas pemadam kebakaran dengan dukungan empat pesawat berjuang mengendalikan kobaran api yang menghanguskan hutan pinus.
Sementara itu, suhu di sebagian wilayah Kroasia, Serbia, Rumania, dan Hungaria diperkirakan melampaui 35 derajat Celsius.
Di Albania, petugas berhasil mengendalikan kebakaran yang melalap semak belukar dan kebun zaitun di dekat Desa Klos.
Presiden Masyarakat Meteorologi Italia, Luca Mercalli, mengatakan suhu ekstrem secara signifikan meningkatkan risiko kebakaran hutan. Meski demikian, hujan badai yang muncul di beberapa daerah mampu mengurangi ancaman tersebut, walaupun distribusi curah hujan tidak merata.
WHO mencatat sedikitnya 1.300 kematian berlebih di seluruh Eropa sejak 21 Juni akibat gelombang panas yang dimulai pada 20 Juni.
Prancis menjadi salah satu negara dengan dampak paling serius. Otoritas kesehatan setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian berlebih yang berkaitan dengan suhu ekstrem. Mayoritas korban merupakan kelompok lanjut usia yang sangat rentan terhadap tekanan panas.
Media Prancis bahkan melaporkan sejumlah rumah duka di Paris dan wilayah sekitarnya kesulitan menangani lonjakan jumlah jenazah.
Selain meningkatkan angka kematian, cuaca ekstrem juga membebani layanan kesehatan, mengganggu pasokan listrik, serta merusak berbagai infrastruktur di sejumlah negara Eropa.
Meski sebagian wilayah Eropa Barat mulai mengalami sedikit penurunan suhu setelah mencatat rekor panas sepanjang Juni, para ahli memperkirakan kondisi tersebut hanya bersifat sementara.
Luca Mercalli mengatakan gelombang panas baru diprediksi kembali terjadi mulai 5 hingga 6 Juli, dengan dampak yang berpotensi meluas ke Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, Swiss, hingga sebagian wilayah Britania Raya.
Dengan demikian, musim panas ekstrem di Eropa diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang.
Sejumlah ilmuwan menegaskan gelombang panas kali ini hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.
Mereka menyebut suhu malam yang sangat tinggi selama pekan ini menjadi 100 kali lebih mungkin terjadi dibandingkan kondisi sekitar dua dekade lalu akibat pemanasan global.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga mengingatkan bahwa Eropa kini merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia, yakni hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata global.
Ia menyebut stres akibat panas sebagai "pembunuh senyap" karena dampaknya sering kali tidak langsung terlihat, tetapi mampu memicu lonjakan kematian, terutama di kalangan lansia dan kelompok rentan.
Menurut Tedros, banyak rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa pada dasarnya tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi yang kini semakin sering terjadi akibat perubahan iklim. (*)
Sabtu, 13/06/2026 06:46 WIB
Sabtu, 13/06/2026 06:26 WIB