Anak sedang bermain gadget (Foto: Tyler Lagalo/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Memberikan ponsel atau tablet kepada anak yang sedang menangis, rewel, atau tantrum menjadi cara cepat yang kerap dipilih banyak orang tua. Dalam hitungan menit, anak biasanya menjadi tenang dan situasi kembali terkendali.
Namun, apakah kebiasaan ini benar-benar aman bagi perkembangan anak? Atau justru bisa memengaruhi kemampuan mereka mengendalikan emosi di masa depan?
Penelitian terbaru dari The Ohio State University menemukan jawabannya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Dampak penggunaan gadget untuk menenangkan anak sangat bergantung pada kondisi masing-masing anak dan keluarganya.
Dikutip dari Earth, para peneliti menyebut kebiasaan menggunakan layar atau gadget untuk meredakan emosi anak sebagai media emotion regulation.
Praktik ini sangat umum dilakukan, terutama saat orang tua menghadapi situasi yang melelahkan, seperti mengantre di supermarket, menunggu di rumah sakit, atau bepergian bersama anak.
Meski efektif dalam jangka pendek, penelitian menunjukkan penggunaan gadget secara berulang sebagai "penyelamat" dapat memengaruhi perkembangan kemampuan anak dalam mengatur emosinya sendiri.
"Kami menemukan bahwa dampaknya tidak sama pada setiap anak. Polanya berbeda-beda," kata Jane Shawcroft, asisten profesor komunikasi di The Ohio State University sekaligus penulis utama penelitian.
Mengapa Kemampuan Mengendalikan Emosi Sangat Penting? Penelitian ini berfokus pada executive function, yaitu kemampuan otak yang membantu anak mengendalikan perilaku dan emosi.
Dua kemampuan yang menjadi perhatian utama adalah fleksibilitas kognitif, yaitu kemampuan beradaptasi terhadap situasi baru dan mencari solusi. Selain itu, kemampuan lainnya ialah kontrol impuls, yakni kemampuan menahan dorongan untuk bertindak secara spontan.
Kemampuan tersebut menjadi fondasi penting bagi keberhasilan anak saat sekolah, membangun hubungan sosial, hingga kesehatan mental ketika dewasa.
Untuk memahami dampaknya secara lebih akurat, tim peneliti menganalisis data Project M.E.D.I.A., sebuah studi jangka panjang yang mengikuti perkembangan anak sejak usia 2,5 tahun hingga 7,5 tahun.
Selama enam tahap pengamatan, peneliti melihat hubungan antara penggunaan gadget sebagai penenang dengan perkembangan kemampuan mengendalikan diri.
Lantas, apa yang ditemukan? Anak dan orang tua saling memengaruhi. Mayoritas anak menunjukkan pola yang saling berkaitan.
Anak yang lebih sulit mengendalikan emosi cenderung membuat orang tua lebih sering memberikan gadget. Sebaliknya, kebiasaan menggunakan gadget itu kemudian ikut memengaruhi perkembangan kemampuan anak dalam mengatur emosi.
Dengan kata lain, hubungan tersebut membentuk sebuah siklus. Anak memengaruhi cara orang tua mengasuh, sementara pola pengasuhan ikut membentuk perkembangan anak.
Meski demikian, peneliti menemukan hasil yang menarik. Sekitar 13 persen anak menunjukkan pola yang berbeda.
Sebagian kecil anak tampak lebih dipengaruhi oleh penggunaan gadget dibanding kemampuan mereka mengendalikan diri. Pada kelompok ini, penggunaan gadget memiliki pengaruh lebih besar terhadap perkembangan fungsi eksekutif.
Artinya, tidak semua anak memiliki respons yang sama terhadap penggunaan layar.
Penelitian juga menemukan satu faktor yang cukup menonjol, yakni kesehatan mental orang tua. Keluarga yang orang tuanya mengalami tingkat depresi lebih tinggi cenderung lebih sering menggunakan gadget untuk menenangkan anak.
Menurut Shawcroft, hal tersebut bukan karena orang tua sengaja memilih jalan pintas, melainkan karena gadget menjadi solusi yang paling mudah ketika energi fisik dan emosional mereka sudah terkuras.
"Teknologi menjadi alat yang digunakan orang tua ketika mereka tidak lagi memiliki sumber daya emosional untuk menghadapi situasi tersebut," ujarnya.
Peneliti menegaskan hasil studi ini tidak berarti orang tua harus sepenuhnya melarang penggunaan gadget. Yang lebih penting adalah membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola emosi tanpa selalu bergantung pada layar.
Di sisi lain, dukungan terhadap kesehatan mental orang tua juga dinilai sama pentingnya. Lingkungan yang mendukung, ruang bermain yang aman, hingga bantuan dari keluarga dan komunitas dapat mengurangi ketergantungan terhadap gadget sebagai alat penenang.
Shawcroft menilai pengasuhan anak di era digital bukan semata-mata tanggung jawab orang tua. Menurutnya, masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
"Jika ingin anak-anak tumbuh dengan baik, maka membantu orang tua agar tetap sehat secara mental juga menjadi bagian dari solusinya," kata Shawcroft.
Temuan ini menunjukkan bahwa gadget memang bisa menjadi penolong di saat-saat tertentu. Namun, jika terlalu sering dijadikan cara utama untuk meredakan tantrum, kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan anak dalam mengelola emosi dan perilakunya di kemudian hari.
Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam Journal of Communication. (*)
Sumber: Earth