Ilustrasi - Hari Keterampilan Pemuda Sedunia setiap 15 Juli (Foto: Unplash/ Jed Villejo)
Jakarta, Jurnas.com - Setiap tanggal 15 Juli, masyarakat internasional memperingati Hari Keterampilan Pemuda Sedunia atau World Youth Skills Day.
Momentum tahunan ini menjadi platform global yang sangat krusial untuk menyoroti pentingnya membekali generasi muda dengan keterampilan yang relevan demi penyerapan lapangan kerja, pembukaan lapangan kerja yang layak, serta menumbuhkan jiwa kewirausahaan yang tangguh.
Sejarah hari peringatan ini lahir dari sebuah kekhawatiran global yang mendalam terhadap tingginya angka pengangguran di kalangan remaja dan dewasa muda.
Generasi muda secara statistik memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar untuk menganggur dibandingkan dengan kelompok usia dewasa.
Tantangan ini diperparah oleh fenomena ketidaksesuaian keterampilan, di mana kompetensi yang diajarkan di lembaga pendidikan formal sering kali tidak sejalan dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh industri modern yang terus berkembang pesat.
Kondisi ketimpangan tersebut akhirnya mendorong perlunya sebuah gerakan global yang terstruktur dan diakui secara internasional untuk menjembatani kesenjangan dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.
Gagasan untuk menetapkan hari khusus ini pertama kali diusulkan oleh delegasi dari Sri Lanka dalam forum internasional.
Usulan tersebut kemudian mendapat dukungan penuh dari negara-negara anggota kelompok berkembang dan Tiongkok, hingga akhirnya dibawa ke forum tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Pada bulan Desember 2014, Majelis Umum PBB secara resmi mengadopsi resolusi nomor A/RES/69/145 yang menetapkan tanggal 15 Juli sebagai Hari Keterampilan Pemuda Sedunia.
Setahun berselang, tepatnya pada tanggal 15 Juli 2015, peringatan ini dirayakan secara global untuk pertama kalinya.
Tujuan utama dari resolusi PBB tersebut adalah meningkatkan kesadaran publik dan komitmen politik global akan pentingnya investasi dalam Pendidikan dan Pelatihan Teknis dan Vokasional atau yang dikenal sebagai TVET.
Lembaga dunia seperti UNESCO menilai bahwa pelatihan vokasi merupakan instrumen paling krusial karena mampu memberikan akses langsung ke dunia kerja melalui pembelajaran berbasis praktik.
Selain itu, sistem ini dirancang agar adaptif terhadap transisi digital, otomatisasi, dan ekonomi hijau yang menjadi tren global saat ini.
Peringatan ini juga beriringan dengan komitmen dunia dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk menjamin pendidikan berkualitas yang inklusif serta meningkatkan jumlah wirausahawan muda demi masa depan ekonomi yang lebih baik.