Peneliti AS, Youlin Chen bersama sang istri (Foto: Reuters)
Beijing, Jurnas.com - Seorang seismolog Amerika Serikat (AS) kelahiran China yang telah memublikasikan karyanya tentang deteksi uji coba nuklir Korea Utara (Korut), ditahan di China selama hampir dua tahun dan menghadapi persidangan atas tuduhan spionase.
Youlin Chen, menambah ketegangan dalam hubungan antara kedua negara rival bersenjata nuklir tersebut, dan terjadi di saat Presiden Donald Trump berupaya menjaga hubungan tetap stabil menyusul perang dagang tahun lalu.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pada 19 Maret lalu menetapkan Chen sebagai warga negara yang ditahan secara salah, dan menetapkan pembebasan Chen sebagai prioritas utama AS.
Pemerintahan Trump menahan pengumuman publik untuk memberikan ruang bagi diplomasi tingkat tinggi yang bertujuan mengamankan kebebasannya, menurut sang istri, Yufang Rong.
"Pemerintah fokus untuk mendapatkan pembebasannya dari penahanan yang tidak dapat dibenarkan," kata sebuah sumber AS yang mengetahui kasus Chen, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Selasa (14/7).
Chen, yang menjadi warga negara AS pada 2011 dan tinggal di Boston, Massachusetts, adalah satu-satunya warga Amerika yang saat ini ditahan di China.
Istri Chen, Rong, mengatakan dia telah diberitahu oleh Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri bahwa selama kunjungan kenegaraan ke Beijing pada Mei, Trump mengangkat isu penahanan suaminya kepada pemimpin China Xi Jinping, yang berjanji untuk memeriksanya. Namun, pemerintahan Xi tidak mengambil tindakan apa pun.
Sumber AS tersebut tidak secara langsung mengonfirmasi bahwa Trump membahas isu Chen dengan Xi. Namun sumber itu mengatakan keduanya memiliki "hubungan pribadi yang sangat baik. Ini adalah salah satu dari banyak aspek dalam hubungan AS-China. Tidak ada satu masalah pun yang menentukan."
Dalam sebuah wawancara bersama Reuters, Rong menyatakan keprihatinannya bahwa Beijing telah memutuskan Chen bersalah atas spionase bahkan sebelum dia diadili, sebuah kejahatan yang di China diancam dengan hukuman maksimal penjara seumur hidup atau bahkan hukuman mati untuk kasus-kasus yang dianggap sangat berat.
"Saya yakin mereka akan menghukumnya apa pun yang terjadi dan persidangan akan dilakukan secara tertutup," kata Rong.
Foley Foundation, sebuah organisasi advokasi sandera yang telah melacak kasus Chen, meyakini bahwa Chen termasuk di antara sedikitnya 12 warga Amerika yang ditahan secara tidak adil di China, termasuk orang-orang yang berada di bawah larangan keluar, menurut Elizabeth Richards, Direktur Advokasi Sandera.
Diketahui, Chen ditangkap oleh petugas keamanan negara China pada 5 November 2024 di Bandara Internasional Beijing, saat ia bersiap untuk terbang pulang ke Boston setelah mengunjungi keluarga dan memberikan kuliah tentang pekerjaannya di dua universitas.
Pada awal penahanannya, Chen dihadapkan pada kondisi yang keras, termasuk dipaksa duduk sepanjang hari di atas bangku yang keras tanpa diizinkan berdiri, membaca, atau berolahraga, serta tidak dapat memperoleh obat-obatan untuk penyakit diabetes dan masalah kesehatan lainnya.
Sejak saat itu, Rong mengatakan suaminya telah kehilangan berat badan sebanyak 30 hingga 40 pon, lantaran diberi makanan yang tidak mencukupi dengan sedikit protein, buah-buahan, atau sayuran, dan hanya menerima obat-obatan berkualitas rendah.
Dia didakwa dengan tuduhan spionase pada 1 Mei 2025, tetapi belum menjalani persidangan. Kasus ini kemungkinan akan muncul kembali selama kunjungan yang menurut Trump akan dilakukan oleh Xi ke Washington pada September.