Mata uang Rupiah Indonesia dan Dolar Amerika Serikat. (Istimewa)
Jakarta, Jurnas.com - Hingga Mei 2026 ini, Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) Indonesia tumbuh sebesar 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 444,4 miliar dolar AS, dengan rasio terhadap PDB sebesar 29,9 persen.
Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI), menilai posisi ULN pada Mei 2026 tetap terjaga, meski sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada April 2026 sebesar 2,0 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah.
Secara keseluruhan, ULN Indonesia didominasi oleh ULN jangka panjang dengan pangsa mencapai 83,9 persen dari total ULN.
Sementara itu, peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak masih tingginya ketidakpastian global.
Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah menyatakan terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.
Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.