Konferensi pers The 8th Open Society Conference (OSC) 2026 (Foto: Ist/Jurnas)
Jakarta, Jurnas.com - Universitas Terbuka (UT) mengingatkan para mahasiswa agar tidak terlena atau terjebak oleh kepraktisan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dalam menempuh proses perkuliahan.
Kendati kehadiran AI di satu sisi terbukti mempermudah pembelajaran, pemanfaatan teknologi tersebut wajib diimbangi dengan rasa tanggung jawab akademik serta kepatuhan etika yang ketat.
Demikian disampaikan oleh Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UT, Prof. Rahmat Budiman, dalam kegiatan `The 8th Open Society Conference (OSC) 2026` yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) UT di UTCC, Tangerang Selatan, pada Kamis (15/10).
Mengusung tema `Bridging Technological Innovation, Governance and Social Responsibility: Advancing Digital Interconnectivity, Social Capital, and Global Resilience`, forum internasional ini mengkaji secara mendalam titik temu antara inovasi teknologi, tata kelola, dan tanggung jawab sosial.
Di sela-sela kegiatan, Warek Rahmat mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kecenderungan mahasiswa yang mulai mengabaikan proses kritis akibat ketergantungan pada kecerdasan buatan. Menurutnya, sifat AI yang serba instan kerap membuat mahasiswa menganggap remeh tugas-tugas perkuliahan serta menelan mentah-mentah seluruh hasil olahan mesin.
"Memang AI itu di satu sisi karena ini alat yang memudahkan ya, karena saking mudahnya mahasiswa kerap menganggap gampang dan sesuatu yang dihasilkan oleh AI itu pasti betul," ujar Prof. Rahmat.
Guna membentengi integritas akademik dari ketergantungan tersebut, UT telah menetapkan rambu-rambu tegas melalui penerbitan Peraturan Rektor (Pertor) terkait penggunaan AI dalam bidang akademik. Regulasi tingkat universitas ini kemudian diturunkan ke dalam pedoman teknis yang diintegrasikan langsung ke portal registrasi mahasiswa, MyUT.
Dia menjelaskan bahwa pedoman etika tersebut otomatis diberikan kepada mahasiswa begitu mereka resmi memperoleh Nomor Induk Mahasiswa (NIM) saat pendaftaran.
"Jadi ketika mahasiswa registrasi, ketika mereka sudah dapat NIM itu akan mendapatkan pedoman penggunaan artificial intelligence di dalam pembelajaran maupun dalam kegiatan akademik lainnya. Harapannya mahasiswa itu dapat mempergunakan AI secara bertanggung jawab," dia menambahkan.
Selain menyematkan panduan dalam sistem administrasi digital, UT juga menggencarkan sosialisasi etika akademik ke berbagai saluran publik. Edukasi pemanfaatan AI yang bertanggung jawab disiarkan secara berkala melalui media sosial, UT Radio, televisi kampus, hingga forum seminar khusus.
Di lingkungan internal, UT telah mengadopsi AI sejak setahun terakhir untuk menunjang layanan pembelajaran daring serta verifikasi berkas kemahasiswaan.
Kampus PTN tersebut bahkan mulai menguji coba sistem kolaborasi pengajaran antara tutor AI dan dosen manusia, serta mengembangkan mahasiswa virtual, guna memantik diskusi daring demi mendongkrak capaian kompetensi dan nilai akhir mahasiswa.
Senada dengan hal itu, Dekan FHISIP UT Dr. Meita Istianda menegaskan bahwa perkembangan teknologi merupakan pedang bermata dua yang menuntut sikap kritis dari sivitas akademika.
Dikatakan, bahaya laten di balik kemudahan digital, seperti ancaman disinformasi, misinformasi, hingga fenomena platformisasi yang kerap memperlakukan publik semata-mata sebagai pekerja digital.
Diketahui, terdapat total 154 artikel penelitian yang masuk selama rangkaian OSC 2026, dan sebanyak 100 artikel dinyatakan lolos seleksi melalui proses peer review untuk dipresentasikan dalam konferensi tersebut oleh peneliti dari tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan India.
Melalui forum ini, transformasi digital akan dikaji tidak semata-mata dari sisi perkembangan teknologi, tetapi juga dari bagaimana inovasi dikelola dan diterapkan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.
Ketua Panitia OSC 2026 Bahir Muhammad mengatakan upaya ini penting untuk menghubungkan kemajuan teknologi dengan tata kelola yang bertanggung jawab serta penguatan ketahanan sosial.
"Kita juga mengundang beberapa publisher mulai dari Scopus Q4 sampai dengan Sinta 2, 3, dan 4 serta jurnal-jurnal terindeks Atlantis Press," kata Bahir.
Adapun sejumlah pembicara yang hadir dalam forum ini ialah Associate Professor Fakultas Hukum Universitas Indonesia Dr. Edmon Makarim, Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik UT Prof. Dr. Siti Aisyah, Research Fellow Graduate School of Social Science Chiba University Jepang An-Chun Cheng, Ph.D, pendiri Skuzika Ivo Peshev, serta Vice Chancellor Jesselton University College Malaysia Prof. Dr. Mohamad Afzhan Khan.
Kamis, 15/10/2026 16:15 WIB
Kamis, 15/10/2026 15:15 WIB
Jum'at, 09/10/2026 13:05 WIB
Kamis, 15/10/2026 16:54 WIB
Kamis, 15/10/2026 16:01 WIB