https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Legislator Golkar Soroti Dugaan Kekerasan di Sekolah Rakyat Samarinda

Samrut Lellolsima | Kamis, 15/10/2026 11:35 WIB



Sekolah Rakyat harus menjadi tempat yang membuat anak merasa aman dan dihargai Anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian. (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian menyoroti pentingnya perlindungan anak di Sekolah Rakyat menyusul adanya aspirasi orang tua siswa terkait dugaan perundungan, kekerasan antarsiswa, hingga pola pendisiplinan di lingkungan asrama.

Persoalan tersebut mencuat saat Hetifah berdialog dengan orang tua dan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (14/10).

Baca juga :
Komisi VIII DPR Soroti Pengawasan Internal BNPB Pasca OTT KPK

Dalam pertemuan itu, sejumlah orang tua menyampaikan berbagai persoalan yang perlu mendapat perhatian pengelola sekolah dan instansi terkait.

Hetifah menilai, masukan dari orang tua menjadi bahan penting untuk mengevaluasi pelaksanaan program Sekolah Rakyat, terutama dalam memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh pendidikan sekaligus lingkungan pengasuhan yang aman.

Baca juga :
Legislator PKB Minta Pertamina Evaluasi Distribusi BBM di Bali

“Sekolah Rakyat harus menjadi tempat yang membuat anak merasa aman dan dihargai,” kata Hetifah dalam keterangan resminya, Kamis (15/10).

Politikus Golkar itu menilai, setiap laporan dugaan kekerasan perlu ditelusuri secara objektif dengan mengutamakan keselamatan dan perlindungan korban. Ia mengingatkan, penerapan disiplin di asrama tidak boleh menggunakan cara-cara yang merendahkan martabat anak, baik melalui kekerasan fisik maupun verbal.

Baca juga :
Dek Gam Minta Publik Aktif Laporkan Pelanggaran Etik Anggota DPR ke MKD

Hetifah mengatakan, siswa Sekolah Rakyat memiliki latar belakang keluarga dan pengalaman hidup yang beragam. Karena itu, pola pengasuhan perlu mengedepankan kesabaran, kasih sayang, serta pemahaman terhadap kondisi psikologis anak.

Selain persoalan keamanan, Hetifah juga menerima keluhan mengenai pelayanan kesehatan dan pemenuhan gizi siswa.

Orang tua berharap tersedia layanan kesehatan yang memadai di lingkungan sekolah, termasuk dukungan tenaga medis untuk menangani siswa yang membutuhkan perawatan lanjutan.

Salah satu aspirasi berkaitan dengan siswa yang memiliki kelainan jantung bawaan dan masih membutuhkan tindakan medis, sementara keluarganya menghadapi keterbatasan biaya.

“Jangan sampai ada anak yang kesulitan mengikuti pendidikan karena kebutuhan kesehatannya belum tertangani,” ujarnya.

Hetifah mendorong pengelola sekolah berkoordinasi dengan Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta fasilitas kesehatan untuk mencari solusi sesuai kebutuhan medis siswa.

Ia juga mencatat masukan orang tua mengenai kualitas makanan, kebutuhan gizi khusus, waktu istirahat, serta kelengkapan fasilitas dasar asrama.

Di sisi lain, Hetifah mengapresiasi keinginan siswa Sekolah Rakyat untuk melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Menurutnya, cita-cita tersebut harus didukung dengan informasi dan pendampingan agar mereka dapat mengakses kesempatan pendidikan yang tersedia.

Ia menyebut Beasiswa Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan KIP Kuliah sebagai sejumlah pilihan yang dapat dipertimbangkan oleh siswa sesuai persyaratan masing-masing program.

“Artinya, mereka punya mimpi dan semangat untuk mengubah masa depan. Kita perlu memastikan mereka mendapatkan informasi, bimbingan, dan pendampingan untuk mengakses berbagai kesempatan pendidikan tinggi,” tuturnya.

Dalam dialog tersebut, orang tua juga mengusulkan penguatan pendidikan agama, penambahan kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran bahasa asing, serta pembenahan tata tertib asrama.

Tak hanya menyangkut pendidikan, persoalan ekonomi keluarga turut menjadi perhatian. Sejumlah orang tua menyampaikan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, termasuk belum memiliki rumah sendiri dan berharap mendapatkan akses bantuan perumahan.

Hetifah berpandangan, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak bisa hanya diukur dari jumlah anak yang memperoleh akses pendidikan. Kondisi keluarga siswa juga perlu menjadi perhatian agar upaya memutus rantai kemiskinan dapat berjalan berkelanjutan.

“Pendidikan anak, kesehatan, perlindungan sosial, dan pemberdayaan ekonomi keluarga harus saling mendukung agar perubahan yang dihasilkan benar-benar berkelanjutan,” tegasnya.

Hetifah pun meminta pengelola Sekolah Rakyat dan instansi terkait menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan, terutama persoalan yang menyangkut keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan psikologis siswa.

Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Sosial, ia menegaskan bahwa masukan dari orang tua dan siswa perlu menjadi bagian dari fungsi pengawasan terhadap penyelenggaraan program tersebut.

“Keberhasilan Sekolah Rakyat bukan hanya berapa banyak anak yang berhasil kita sekolahkan, tetapi juga seberapa aman mereka tinggal, seberapa baik mereka diasuh, seberapa sehat mereka tumbuh, dan seberapa besar peluang mereka meraih masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.

 

 

 

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Warta DPR Komisi VIII Hetifah Sjaifudian Sekolah Rakyat Samarinda kekerasan

Terkini | Kamis, 15/10/2026 13:10 WIB

News

Trump Prediksi Perang Iran Segera Berakhir, Harga Minyak Bakal Anjlok

Olahraga

Endrick: Saya Akan Terus Berjuang untuk Real Madrid

Olahraga

Menang Lawan City, Dembele Akui PSG Bermain Buruk di Babak Kedua

News

Legislator Golkar Soroti Dugaan Kekerasan di Sekolah Rakyat Samarinda

Olahraga

Enrique Puji Mentalitas Pemainnya usai Menang Lawan City

News

Danantara Indonesia Ambil Alih Pengelolaan PLN Batam Pasca Pemadaman Massal

Gaya Hidup

Hari Kehilangan Kehamilan dan Bayi Setiap 15 Oktober, Ini Maknanya

Gaya Hidup

Mengapa Hari Pelajar Sedunia Diperingati Setiap 15 Oktober?

News

Mentrans Sambut Baik Usulan Tiongkok Kolaborasi Pusat Riset Padi di Merauke

Humanika

Hari Perempuan Pedesaan Setiap 15 Oktober, Ini Sejarah dan Maknanya

News

Kamis Pagi, Kualitas Udara Medan dan Jakarta Tidak Sehat

Ekonomi

Transformasi RSPP, BP BUMN dan Danantara Siapkan Rp581 Miliar

Gaya Hidup

Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia Setiap 15 Oktober, Ini Sejarahnya

Gaya Hidup

Riset: 91 Persen Perusahaan Belum Mengukur Dampak Keanekaragaman Hayati

News

Trump Doakan Paus Leo XIV Cepat Pulih setelah Diagnosis Kanker Paru-paru

News

Terjebak di Bekas Karhutla, Orangutan 20 Tahun Dievakuasi

News

Pemerintah Matangkan Skema Pendidikan Gratis PAUD hingga Perguruan Tinggi

News

Transformasi BMN, Setjen DPR Sukseskan Aplikasi SATRIA dan Sensus Data

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777