Misil Iran dalam pertempuran melawan Amerika Serikat (Foto: AP)
Jakarta, Jurnas.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC memperingatkan bahwa respons Tehran akan berubah secara signifikan jika Amerika Serikat kembali menyerang Iran.
Juru bicara IRGC Hossein Mohibi mengatakan Iran akan menggunakan persenjataan baru, memperluas “geografi perang”, dan mengarahkan serangan ke target yang sebelumnya belum pernah diserang.
Pernyataan tersebut disampaikan Mohibi dalam program televisi pada Minggu (21/9) malam ketika ketegangan Iran dan AS kembali meningkat. Ia mengatakan perubahan tidak hanya menyangkut cara Iran menjalankan operasi pertahanan dan serangan balik, tetapi juga senjata serta wilayah yang menjadi bagian dari konflik.
“Jika serangan baru terjadi, operasi pertahanan dan ofensif kami akan berubah secara signifikan. Kami akan mengubah senjata dan geografi perang, serta membawa kemampuan baru dengan kapasitas baru ke medan perang. Dunia akan terkejut,” kata Mohibi.
Ia juga mengatakan target Iran tidak lagi terbatas pada sasaran yang sebelumnya telah diserang.
“Target kami tidak lagi sama seperti sebelumnya. Kami telah mengidentifikasi target baru yang belum pernah diserang,” ujarnya.
Mohibi tidak merinci target maupun jenis persenjataan baru yang dimaksud. Laporan mengenai kemampuan persenjataan baru Iran tersebut juga belum dapat diverifikasi secara independen.
Mohibi mengatakan Iran bersiap menghadapi perang dalam jangka panjang. Menurut dia, dari sudut pandang IRGC, perang memiliki sejumlah tahapan dan belum benar-benar berakhir.
“Iran siap menghadapi perang jangka panjang. Dari sudut pandang kami, perang memiliki tahapan yang berbeda. Perang tidak berakhir, tetapi berlanjut. IRGC sudah siap menghadapi perang dan sekarang bahkan lebih siap,” katanya.
Ia juga mengatakan IRGC tidak melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat dan angkatan bersenjata Iran tidak terlibat dalam diplomasi. Menurut Mohibi, misi utama militer adalah mempertahankan negara.
Dalam pernyataan lainnya, Mohibi mengklaim dominasi AS di kawasan telah berakhir dan Iran kini memiliki peran dalam membentuk tatanan baru di kawasan. Klaim tersebut merupakan pernyataan dari pihak Iran dan tidak disertai rincian independen dalam laporan tersebut.
Peringatan IRGC muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, termasuk terkait Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi bagian penting dari arus energi global.
Konflik antara Iran, AS, dan Israel telah berlangsung sejak serangan besar AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menyasar gedung pemerintahan, fasilitas militer, infrastruktur rudal, dan sistem pertahanan udara Iran.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta pangkalan-pangkalan AS di kawasan. Konflik sempat memasuki fase gencatan senjata pada April sebelum kesepakatan damai yang dirancang melalui memorandum pada Juni kemudian gagal.
Upaya untuk mengakhiri konflik masih berlangsung melalui mediator, termasuk Pakistan dan Qatar. Di tengah proses tersebut, ancaman IRGC menunjukkan bahwa Tehran tetap menyiapkan kemungkinan menghadapi eskalasi baru.
Peringatan itu juga muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya menghadapi keputusan penting mengenai apakah akan kembali meningkatkan serangan terhadap Iran. Pada saat yang sama, Trump menyatakan terbuka terhadap kemungkinan bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian di sela-sela Sidang Umum PBB di New York. (*)
Sumber: Anadolu
Minggu, 13/09/2026 11:35 WIB