Senin, 21/09/2026 19:28 WIB

AS Buka Pintu Negosiasi, Iran Disebut Masih Bisa Kembali ke Meja Runding





Selain Iran, Waltz juga membahas pendekatan pemerintahan Trump terhadap Gaza. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai “bentuk baru multilateralisme

Ilustrasi - bendera Amerika Serikat dan Iran (Foto: Anadolu)

Jakarta, Jurnas.com - Amerika Serikat menyatakan pintu negosiasi dengan Iran masih terbuka untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz mengatakan Washington juga menilai waktu berada di pihaknya dalam konflik dengan Iran yang dimulai pada 28 Februari.

Berbicara dalam acara Al-Monitor Live di New York, di sela-sela Sidang Umum PBB, Minggu (20/9), Waltz mengatakan pemerintahan Presiden Donald Trump tetap membuka peluang bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan.

Ketika ditanya penasihat senior Al-Monitor Andrew Parasiliti apakah Washington menilai waktu berada di pihak AS, Waltz menjawab, “Saya memang meyakini bahwa demikian adanya.”

Waltz kemudian menegaskan bahwa “Pintu tetap terbuka bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan.” Menurut dia, AS masih mengharapkan Iran kembali menempuh jalur pembicaraan secara damai dan diplomatik.

Namun, Waltz membantah laporan bahwa Teheran menetapkan penghentian sanksi AS dan pembayaran reparasi sebagai syarat untuk kembali berunding. Ia menyebut laporan mengenai tuntutan tersebut sebagai sesuatu yang “fantastis”.

Waltz juga menyatakan bahwa rezim Iran berada pada titik terlemahnya sejak 1979. Ia mengaitkan penilaiannya dengan tekanan ekonomi dan melemahnya nilai mata uang Iran.

“Mereka akan kembali [ke perundingan], saya berharap secara damai dan melalui jalur diplomasi,” ujar Waltz.

Selain Iran, Waltz juga membahas pendekatan pemerintahan Trump terhadap Gaza. Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai “bentuk baru multilateralisme”.

Menurut Waltz, pembicaraan dengan Israel mengenai penerapan rencana 20 poin Gaza yang digagas Trump dapat kembali bergerak setelah pemilu Israel pada 27 Oktober.

Rencana tersebut mencakup pembentukan pemerintahan teknokratis Palestina, rekonstruksi Gaza, serta pembentukan International Stabilization Force. Namun, perundingan mengenai pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel masih mengalami kebuntuan.

Waltz juga mengatakan terdapat sejumlah pihak yang berpotensi bergabung dalam Abraham Accords untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Namun, ia tidak menyebut negara-negara yang dimaksud.

Ia turut menyambut keputusan Israel dan Maroko untuk bertukar duta besar pada awal bulan ini.

Dalam pembahasan mengenai Irak, Waltz memuji upaya Perdana Menteri Ali al-Zaidi untuk membawa kelompok-kelompok milisi yang didukung Iran berada di bawah kendali negara.

Menurut Waltz, kondisi Iran yang disebutnya melemah dapat membuka peluang untuk membatasi pengaruh kelompok-kelompok tersebut. (*)

Sumber: Anadolu

KEYWORD :

Amerika Serikat Perang Iran Pintu Negosiasi Timur Tengah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :