Sabtu, 19/09/2026 03:40 WIB

Krisis Selat Hormuz Jadi Gangguan Terburuk Perdagangan Global





WTO mengatakan perdagangan global menghadapi gangguan terburuk dalam 80 tahun karena hambatan rantai pasok di Selat Hormuz mengancam harga pangan.

Selat Hormuz yang kini diblokade oleh Iran selama perang melawan AS dan Israel (Foto: AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengatakan perdagangan global menghadapi gangguan terburuk dalam 80 tahun karena hambatan rantai pasok di Selat Hormuz mengancam harga pangan dan pupuk dunia.

Ketika berbicara di sela-sela Forum Publik WTO di Jenewa, Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala, mengatakan kepada Anadolu bahwa sistem perdagangan global masih tangguh, tetapi konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah menjadi ujian besar bagi 166 negara anggota organisasi tersebut.

Ia mencatat perdagangan barang global tumbuh 4,6 persen tahun ini, jauh lebih kuat dari perkiraan, meski menghadapi tekanan geopolitik.

Sementara itu, 72 persen perdagangan global masih berlangsung berdasarkan aturan WTO.

Sebelumnya, pertumbuhan perdagangan barang secara keseluruhan diproyeksikan sebesar 1,9 persen untuk sepanjang tahun.

Namun, tingkat pertumbuhan pada kuartal pertama yang mencapai 3,2 persen melampaui ekspektasi.

Okonjo-Iweala mengatakan sebagian besar momentum tersebut didorong oleh lonjakan perdagangan terkait kecerdasan buatan (AI), yang turut didorong oleh perjanjian tarif rendah atau nol yang mencakup pengiriman semikonduktor dan cip senilai 3 triliun dolar AS secara global.

Ia mengingatkan agar tren tersebut tidak dianggap akan terus berlanjut, serta memperingatkan bahwa manfaat ekonomi dari lonjakan perdagangan itu masih terkonsentrasi di Amerika Utara dan Asia Timur. Kondisi tersebut disebutnya memunculkan kekhawatiran mengenai inklusivitas pasar global.

Okonjo-Iweala mengatakan cadangan nasional untuk sementara melindungi pasar dari guncangan akibat gangguan di Selat Hormuz sejauh ini.

Namun, blokade berkepanjangan di jalur perairan vital tersebut pada akhirnya akan menyebabkan kenaikan biaya pertanian.

Perkiraan WTO sebelumnya menunjukkan bahwa harga minyak mentah yang mencapai 90 dolar AS per barel dapat menurunkan pertumbuhan perdagangan secara keseluruhan sebesar 0,5 poin persentase.

Sementara itu, harga minyak mentah saat ini telah melampaui ambang tersebut.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa perusahaan pelayaran tetap mempertahankan volume perdagangan dengan mengalihkan kapal melalui rute alternatif.

Namun, pengalihan melalui rute yang lebih panjang menambah biaya premi yang besar dan menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas jangka panjang rantai pasok saat ini, kata Okonjo-Iweala.

Okonjo-Iweala turut mendesak negara-negara berkembang untuk terlibat dalam penyusunan kebijakan yang dimodernisasi sehingga mereka juga dapat memanfaatkan peluang ekonomi. Reformasi yang diusulkan akan menyasar mekanisme kelembagaan yang tidak berfungsi dan membantu mencegah negara-negara tersebut tertinggal.

Sumber: Anadolu

KEYWORD :

Selat Hormuz Perang Iran Organisasi WTO Krisis Pangan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :