Petugas pemadam berupaya memadamkan api dalam kebakaran hutan dan lahan (Foto: Kemenhut)
Jakarta, Jurnas.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian pemerintah seiring kondisi yang dinamis di sejumlah wilayah, terutama Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.
Hingga Minggu (20/9) pukul 23.59 WIB, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Indonesia mencapai 1.532 titik, naik 209 titik dibandingkan 1.323 titik sehari sebelumnya.
Data tersebut berasal dari SiPongi Kemenhut yang menggunakan pantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Meski secara nasional meningkat, perkembangan di enam provinsi prioritas menunjukkan kondisi yang berbeda-beda.
Kalimantan Tengah masih mencatat hotspot high confidence terbanyak. Hingga Minggu (20/9) pukul 21.05 WIB, terdeteksi 968 titik, turun dari 1.035 titik pada Sabtu.
Sebaliknya, Sumatera Selatan mengalami peningkatan paling mencolok. Jumlah hotspot di provinsi tersebut melonjak menjadi 285 titik dari sebelumnya 112 titik. Perubahan ini menjadi salah satu perhatian dalam menentukan prioritas operasi penanganan karhutla.
Di Kalimantan Barat, hotspot turun dari 107 menjadi 98 titik. Kalimantan Selatan juga mengalami penurunan, dari 55 menjadi 39 titik. Sementara itu, Jambi naik dari 14 menjadi 26 titik dan Riau yang sebelumnya nihil kini tercatat memiliki satu hotspot.
Perkembangan tersebut membuat pemerintah terus menyesuaikan operasi penanganan berdasarkan kondisi di lapangan dan faktor meteorologis. Operasi yang dilakukan mencakup pemadaman darat, water bombing, patroli udara, pembasahan, pendinginan, hingga Operasi Modifikasi Cuaca.
Kemenhut mengingatkan, hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan kejadian kebakaran atau luas lahan yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan masih membutuhkan verifikasi melalui groundcheck serta pemeriksaan kondisi aktual di lapangan.
Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa titik yang terdeteksi sebagai hotspot. Karena itu, data satelit digunakan sebagai salah satu indikator untuk membantu pemantauan dan menentukan respons, bukan sebagai ukuran langsung luas area yang terbakar.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan sejak Agustus pemerintah telah mengerahkan 64 pesawat dan helikopter serta 54.394 personel gabungan untuk menangani karhutla di berbagai wilayah terdampak.
Kekuatan udara tersebut mencakup helikopter water bombing, helikopter patroli, serta pesawat pendukung Operasi Modifikasi Cuaca. Pelaksanaan operasi udara disesuaikan dengan kondisi api, potensi awan, jarak pandang, serta aspek keselamatan penerbangan.
Di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bekerja bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, relawan, dan para pihak melalui patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pembasahan, serta pendinginan.
Di Kalimantan Tengah, meskipun hotspot high confidence turun dari 1.035 menjadi 968 titik, kabut asap masih menjadi tantangan serius bagi operasi dan aktivitas masyarakat. Pada Minggu (20/9), jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya sempat turun hingga sekitar 600 meter. Kondisi tersebut berdampak terhadap 14 pergerakan pesawat, terdiri atas tujuh kedatangan dan tujuh keberangkatan yang mengalami gangguan.
Sementara di Sumatera Selatan, BMKG pada Minggu (20/9) memperingatkan bahwa sebagian besar wilayah, khususnya bagian tengah hingga timur, diprakirakan mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan bawah normal pada dasarian III September. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan jumlah hotspot di daerah rawan karhutla.
BMKG juga mencatat sejumlah wilayah Sumatera Selatan mengalami hari tanpa hujan panjang hingga sangat panjang, bahkan sebagian wilayah masuk kategori kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari. Kondisi ini memperbesar kerentanan vegetasi dan lahan gambut terhadap kebakaran.
Di lapangan, upaya pembasahan gambut juga diperkuat. Salah satunya melalui pengelolaan tata air dan injeksi air pada kawasan gambut di Sumatera Selatan untuk mempertahankan kelembapan lahan selama musim kemarau.
Pantauan PM2,5 menunjukkan kondisi udara di Indonesia masih bervariasi. Sebagian wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah area di Sumatera dan Kalimantan masih menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan pada area tertentu berada pada kategori berbahaya.
Kemenhut mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk terus mengikuti informasi kondisi udara serta arahan pemerintah daerah. Apabila kondisi udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis lainnya. Bagi masyarakat yang berkendara dalam kondisi kabut asap, kurangi kecepatan, nyalakan lampu kendaraan, dan jaga jarak aman.
Kemenhut juga kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Pemegang izin dan pengelola areal wajib memastikan kesiapan pencegahan, deteksi dini, serta pengendalian kebakaran di wilayahnya.
Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar terdampak, segera laporkan kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin.
Laporan karhutla dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Minggu, 13/09/2026 11:35 WIB