Pesawat AirAsia (Foto: Doknet)
Hong Kong, Jurnas.com - Pendiri AirAsia Tony Fernandes menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi maskapai penerbangan akibat krisis bahan bakar yang memicu lonjakan harga avtur pesawat, jauh lebih ringan dibandingkan krisis pandemi Covid-19.
Fernandes menyampaikan bahwa tingginya permintaan pasar untuk perjalanan udara saat ini terus menjadi penopang utama keberlanjutan bisnis perusahaan maskapai berbiaya murah tersebut .
"Kuartal kedua merupakan periode tersulit bagi maskapai, dan kondisi diproyeksikan bakal membaik seiring penyesuaian tarif penerbangan untuk mengompensasi lonjakan biaya bahan bakar," ujar Tony Fernandes dalam sesi konferensi pers di Hong Kong pada Jumat (18/9).
Klarifikasi ini mengemuka dua hari setelah munculnya laporan yang menyebutkan bahwa Pemerintah Malaysia tengah meminta maskapai pesaing, seperti Malaysia Airlines dan Batik Air, untuk menjajaki skenario pengambilalihan pangsa pasar domestik AirAsia guna mengantisipasi kondisi keuangan maskapai tersebut.
Diketahui, operasional AirAsia tertekan oleh lonjakan tajam harga bahan bakar jet yang dipicu oleh kecamuk perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Data biaya bahan bakar mencatat kenaikan sebesar 66 persen pada kuartal kedua dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan harga rata-rata mencapai US$183 per barel.
Meski demikian, pihak manajemen AirAsia optimistis mampu melampaui fase tekanan biaya ini melalui strategi penyesuaian harga tiket yang diimbangi oleh volume penumpang yang tetap solid di kawasan Asia Tenggara.
Minggu, 13/09/2026 11:35 WIB