https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi Ungkap Alasan Wanita Terlihat Lebih Jago Multitasking daripada Pria

Agus Mughni | Jum'at, 17/07/2026 17:43 WIB



Temuan ini membantu menjelaskan mengapa perempuan sering dianggap lebih mahir melakukan multitasking dalam kehidupan sehari-hari Ilustrasi perempuan sedang bekerja sambil mendengarkan musik dan meminum secangkir kopi (Foto: Pexels/Andrea Piacquadio)

Jakarta, Jurnas.com - Anggapan bahwa perempuan lebih pandai melakukan banyak pekerjaan sekaligus dibandingkan laki-laki telah lama menjadi stereotip di masyarakat.

Namun, penelitian terbaru justru menemukan bahwa perbedaannya bukan terletak pada kemampuan menyelesaikan banyak tugas, melainkan pada cara mempertahankan komunikasi saat berada di bawah tekanan.

Dikutip dari Earth, studi ini menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki performa yang hampir sama dalam sebagian besar tugas multitasking. Perbedaan baru terlihat ketika mereka harus tetap berbicara sambil menyelesaikan berbagai pekerjaan secara bersamaan.

Temuan ini membantu menjelaskan mengapa perempuan sering dianggap lebih mahir melakukan multitasking dalam kehidupan sehari-hari, meski berbagai penelitian sebelumnya belum menemukan bukti kuat adanya perbedaan kemampuan kognitif secara umum.

Penelitian dilakukan oleh André Szameitat dari Brunel University of London bersama Diana Szameitat dari City St George`s, University of London.

Berbeda dengan riset sebelumnya yang hanya menggunakan simulasi di depan komputer, penelitian ini dibuat menyerupai aktivitas sehari-hari yang penuh gangguan.

Peserta diminta menyelesaikan lima tugas berbeda di tiga meja yang terpisah. Mereka harus berjalan berpindah tempat sambil mengikuti resep masakan tiruan, mengerjakan teka-teki, mencari nomor telepon, memperhatikan kata-kata yang muncul di layar, sekaligus menjawab pertanyaan yang diperdengarkan setiap 20 detik.

Tekanan semakin meningkat karena waktu yang tersedia terus dipersingkat, dari jeda 90 detik hingga hanya 30 detik. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan berarti antara laki-laki dan perempuan dalam empat dari lima tugas yang diberikan.

Keduanya memiliki kemampuan serupa saat menyelesaikan resep, mencari nomor telepon, mengerjakan teka-teki, maupun memperhatikan kata yang muncul di layar.

Perbedaan muncul pada tugas percakapan. Dalam kondisi yang semakin sibuk, laki-laki lebih sering mengabaikan pertanyaan yang diberikan dibandingkan perempuan.

Rata-rata perempuan hanya melewatkan sekitar 12 persen pertanyaan, sedangkan laki-laki hampir 28 persen. Menariknya, ketika laki-laki menjawab, kualitas maupun kecepatan jawabannya sama baiknya dengan perempuan.

Artinya, persoalannya bukan karena tidak mampu berbicara, melainkan lebih sering memilih atau terdorong untuk menghentikan percakapan ketika perhatian mereka terbagi.

Mengapa perempuan terlihat lebih mampu? Peneliti kemudian memperlihatkan rekaman video para peserta kepada 160 orang yang tidak mengetahui tujuan penelitian.

Para pengamat diminta menilai siapa yang tampak lebih mampu menangani banyak pekerjaan sekaligus. Hasilnya, perempuan dinilai lebih tenang, lebih mampu mengendalikan situasi, lebih percaya diri, dan terlihat lebih kompeten dibandingkan laki-laki.

Yang menarik, penilaian tersebut ternyata bukan dipengaruhi oleh keberhasilan menyelesaikan tugas utama. Sebaliknya, kesan positif muncul karena peserta tetap aktif merespons percakapan.

Seseorang yang tetap berbicara selama multitasking dianggap lebih tenang dan lebih mampu mengelola tekanan, meskipun performa tugas lainnya sebenarnya tidak berbeda.

Peneliti menilai temuan ini berkaitan dengan fenomena psikologis yang dikenal sebagai horn effect, yaitu ketika satu perilaku tertentu memengaruhi penilaian terhadap kemampuan seseorang secara keseluruhan.

Dalam penelitian ini, peserta yang menjadi lebih pendiam saat tekanan meningkat cenderung dianggap kurang mampu, meskipun hasil pekerjaannya sama baiknya.

Menurut André Szameitat, penelitian tersebut tidak menunjukkan bahwa perempuan lebih unggul dalam seluruh aspek multitasking.

Sebaliknya, penelitian ini memperlihatkan bahwa perbedaan utama berada pada kemampuan mempertahankan percakapan ketika harus mengerjakan banyak hal secara bersamaan.

Temuan ini dinilai penting karena banyak profesi menuntut kemampuan bekerja sambil terus berkomunikasi, seperti tenaga kesehatan, pengendali lalu lintas udara, operator darurat, hingga pekerjaan yang membutuhkan koordinasi tim.

Dalam situasi tersebut, seseorang yang tiba-tiba berhenti berbicara bisa dianggap kehilangan kendali, padahal sebenarnya sedang mengalami beban perhatian yang tinggi.

Peneliti menilai pelatihan komunikasi saat menghadapi tekanan berpotensi membantu meningkatkan koordinasi dalam berbagai profesi yang membutuhkan multitasking intensif.

Meski demikian, mereka menegaskan bahwa hasil penelitian ini menggambarkan kecenderungan pada kelompok, bukan aturan mutlak bagi setiap individu. Tidak semua perempuan lebih baik dalam multitasking, begitu pula tidak semua laki-laki akan kesulitan mempertahankan percakapan ketika menghadapi banyak tugas sekaligus.

Penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal Psychological Research. (*)

Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kebiasaan multitasking Aspek Multitasking Perempuan dan Laki-laki

Terkini | Jum'at, 17/07/2026 19:19 WIB

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777