Bek timnas Spanyol, Pedro Porro merayakan golnya dalam pertandingan semifinal Piala Dunia 2026 lawan Prancis di Dallas Stadium, Arlington, Texas, Amerika Serikat, pada Rabu (15/7) dini hari WIB (Foto: AFP/MAURO PIMENTEL)
Jakarta, Jurnas.com - Piala Dunia miliki tradisi untuk menggelar laga perebutan peringkat ketiga dan hal ini terus dipertahankan oleh FIFA. Ada sejumlah alasan membuat federasi tetap mempertahankannya
Prancis dan Inggris menjadi dua tim yang harus memainkan laga perebutan peringkat ketiga Piala Dunia 2026 usai tersingkir di semifinal. Prancis kalah 0-2 dari Spanyol, sedangkan Inggris takluk dramatis 1-2 dari Argentina.
Salah satu alasan utama FIFA mempertahankan laga perebutan peringkat ketiga adalah faktor komersial. Setiap pertandingan tambahan di Piala Dunia memberikan pemasukan lebih besar, mulai dari penjualan tiket, hak siar televisi, hingga pendapatan iklan.
Selain itu, pertandingan ini juga mengisi jeda waktu antara semifinal dan final sehingga penyelenggara tetap memiliki laga besar yang bisa disajikan kepada penonton di seluruh dunia.
Tak hanya soal bisnis, pertandingan perebutan tempat ketiga juga berdampak pada peringkat FIFA. Karena berstatus pertandingan resmi, hasil laga tersebut memiliki nilai lebih tinggi dibanding laga uji coba.
Kemenangan bisa membantu sebuah negara memperoleh tambahan poin ranking FIFA yang nantinya berpengaruh terhadap penempatan unggulan dalam undian kompetisi internasional, termasuk kualifikasi Piala Dunia maupun UEFA Nations League.
Bagi pemain, laga ini juga menjadi kesempatan terakhir untuk mengakhiri turnamen dengan hasil positif setelah kekecewaan akibat gagal lolos ke final.
Pemenang pertandingan juga berhak membawa pulang medali perunggu. Meski tidak mendapatkan trofi khusus, tim yang finis di posisi ketiga memperoleh penghargaan tersendiri sekaligus hadiah uang yang lebih besar.
FIFA memberikan hadiah sebesar 29 juta dolar AS kepada tim peringkat ketiga, atau dua juta dolar lebih banyak dibanding tim yang finis di posisi keempat yang menerima 27 juta dolar AS.
Sejarah pertandingan perebutan peringkat ketiga sudah dimulai sejak Piala Dunia 1934, yang merupakan edisi kedua turnamen tersebut. Saat itu Jerman mengalahkan Austria dengan skor 3-2 untuk merebut posisi ketiga.
Pada edisi pertama Piala Dunia tahun 1930, pertandingan tersebut belum ada. Amerika Serikat kemudian ditetapkan sebagai peringkat ketiga berdasarkan selisih gol yang lebih baik dibanding Yugoslavia.
Laga perebutan tempat ketiga kembali dimainkan pada Piala Dunia 1938. Namun, pertandingan itu sempat ditiadakan pada edisi 1950 karena format kompetisi menggunakan sistem grup pada babak akhir. Sejak Piala Dunia 1954 hingga sekarang, pertandingan perebutan peringkat ketiga selalu menjadi bagian dari turnamen.
Selain menentukan posisi akhir, laga ini juga melahirkan sejumlah rekor bersejarah di Piala Dunia.
Pada edisi 2002, striker Turki Hakan Sukur mencetak gol ke gawang Korea Selatan hanya dalam waktu 11 detik. Rekor tersebut hingga kini masih menjadi gol tercepat sepanjang sejarah Piala Dunia.
Sementara itu, penyerang Prancis Just Fontaine mencetak empat gol saat mengalahkan Jerman Barat 6-3 pada perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1958. Torehan itu membuat Fontaine mengakhiri turnamen dengan 13 gol, yang sampai sekarang masih menjadi rekor gol terbanyak oleh satu pemain dalam satu edisi Piala Dunia.
Pertandingan perebutan tempat ketiga juga kerap memengaruhi persaingan Sepatu Emas atau Golden Boot. Beberapa pemain seperti Eusebio (1966), Salvatore "Toto" Schillaci (1990), Davor Suker (1998), hingga Thomas Muller (2010) berhasil menambah koleksi gol mereka di pertandingan tersebut sebelum akhirnya menjadi top skor turnamen.(ant)
Jum'at, 17/07/2026 13:58 WIB
Jum'at, 17/07/2026 13:42 WIB