Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Chaniago. (Foto: Dok. Parlementaria)
Jakarta, Jurnas.com - Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai NasDem Irma Suryani Chaniago menyoroti penanganan terhadap ribuan mahasiswa kedokteran yang terancam drop out (DO) akibat tidak lulus Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKOM).
Irma menilai, langkah Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) dalam menangani persoalan tersebut tidak produktif dan terkesan semena-mena. Ia khawatir kondisi itu berdampak serius terhadap kesehatan mental mahasiswa maupun keluarganya.
“Saya melihat cara Dikti menangani masalah anak-anak yang tidak lulus UKOM sangat tidak produktif dan semena-mena. Jika hal ini tidak mendapatkan solusi, keluarga dan mahasiswa kedokteran yang sudah belajar selama empat tahun bisa stres. Bahkan dikhawatirkan ada yang nekat bunuh diri lagi,” kata Irma dalam keterangannya, Jumat (22/5).
Menurutnya, pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret agar persoalan tersebut tidak semakin berkepanjangan. Ia meminta Dikti, perguruan tinggi, dan Kementerian Kesehatan duduk bersama mencari solusi terbaik bagi para calon dokter yang belum lulus UKOM.
Irma mengusulkan agar pemerintah membuat program khusus atau crash program bagi mahasiswa yang belum lulus UKOM. Program tersebut dinilai penting untuk memberikan pembinaan tambahan sebelum mahasiswa kembali mengikuti ujian kompetensi.
Selain itu, ia juga mengusulkan pendampingan langsung di lapangan bagi mahasiswa yang belum lulus, misalnya ditempatkan di puskesmas sesuai daerah asal sambil dilakukan evaluasi terhadap kelemahan kompetensi masing-masing.
“Misalnya yang berasal dari Papua ditempatkan di puskesmas sambil dilihat kembali apa kelemahan mereka,” ujarnya.
Tak hanya itu, Irma juga meminta pemerintah mengevaluasi fakultas kedokteran yang memiliki tingkat kelulusan UKOM rendah. Menurut dia, fakultas kedokteran dengan tingkat kelulusan di bawah 30 persen perlu dipertimbangkan untuk ditutup.
“Pilihan terakhir, mau tidak mau, tutup fakultas kedokteran yang kelulusan UKOM-nya di bawah 30 persen,” tegasnya.
Ia menilai langkah evaluasi tersebut penting agar perjuangan mahasiswa yang telah menempuh pendidikan bertahun-tahun tidak berakhir sia-sia hanya karena gagal dalam ujian kompetensi yang berlangsung beberapa jam.
“Solusi ini perlu dilakukan agar anak-anak yang sudah kuliah selama empat tahun tidak sia-sia belajar dan untuk menghindari dropout hanya karena gagal uji kompetensi dua jam,” pungkasnya.
Selasa, 19/05/2026 13:31 WIB
Jum'at, 22/05/2026 11:33 WIB