https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Kasus Kanker Kolorektal pada Anak Muda Meningkat, Ilmuwan Ungkap Pemicunya

Agus Mughni | Kamis, 21/05/2026 18:05 WIB



Kasus kanker kolorektal pada orang lanjut usia terus menurun, namun tren sebaliknya justru terjadi pada kelompok usia muda Ilustrasi - Kanker Anak Muda (Foto: Pexels/cottonbro studio)

Jakarta, Jurnas.com - Kasus kanker kolorektal pada orang lanjut usia terus menurun, namun tren sebaliknya justru terjadi pada kelompok usia muda. Para ilmuwan kini mencoba memahami penyebab meningkatnya jumlah penderita kanker usus besar dan rektum di bawah usia 50 tahun.

Fenomena yang disebut “divergensi aneh” ini menunjukkan bahwa kelompok usia paling berisiko, yakni 65 tahun ke atas, justru mengalami penurunan kasus. Sementara itu, generasi muda menghadapi peningkatan diagnosis yang cukup tajam.

Kondisi ini dinilai sangat mengkhawatirkan karena pasien muda biasanya mengalami keterlambatan diagnosis. Banyak dari mereka baru mengetahui penyakitnya setelah kanker memasuki stadium lanjut yang lebih sulit diobati.

Baca juga :
Pemerintah Ajak Anak Muda Jadi Pelopor Pembangunan Kawasan Transmigrasi

“Hampir semua pasien saya adalah teman sebaya saya sendiri, banyak yang masih memiliki anak kecil, sedang hamil, atau sedang membangun karier mereka,” kata Dr. Geoffrey Buckle, ahli onkologi gastrointestinal dari University of California, San Francisco Health, kepada Live Science.

“Mereka menghadapi diagnosis yang sangat menakutkan,” dia menambahkan.

Baca juga :
Serangan Jantung Usia Muda Meningkat, Studi Kaitkan dengan Metamfetamin

Apa penyebab meningkatnya kasus pada anak muda? Dokter dan peneliti menduga ada perubahan lingkungan atau gaya hidup yang terjadi setelah tahun 1960-an yang menjadi pemicunya.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa faktor tersebut terutama memengaruhi kanker pada rektum dan bagian bawah usus besar.

Baca juga :
Iran Rekrut Anak Belasan Tahun Jadi Penjaga Pos di Teheran

Menurut data American Cancer Society (ACS), terdapat sekitar 158.850 kasus baru kanker kolorektal di Amerika Serikat pada 2026. Lebih dari 86.000 kasus terjadi pada kelompok usia di atas 65 tahun. Namun angka ini sebenarnya menurun sekitar 2,5 persen per tahun sejak 2013.

Para dokter menilai penurunan pada kelompok usia lanjut terjadi berkat keberhasilan skrining rutin seperti kolonoskopi.

Pemeriksaan tersebut biasanya dimulai pada usia 45 tahun untuk orang dengan risiko normal. Dalam prosedur ini, dokter dapat mengangkat polip prakanker sebelum berkembang menjadi kanker.

Namun di saat kelompok lanjut usia mengalami penurunan kasus, orang berusia 50 hingga 64 tahun justru mengalami kenaikan sekitar 0,4 persen per tahun. Peningkatan lebih tinggi terjadi pada kelompok usia 20 hingga 49 tahun dengan lonjakan sekitar 3 persen setiap tahun.

Peningkatan ini ditemukan pada seluruh kelompok ras dan etnis.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal CA: A Cancer Journal for Clinicians mencatat sekitar 24.640 kasus baru setiap tahun terjadi pada orang usia 49 tahun ke bawah, dan sekitar 47.600 kasus pada kelompok usia 50 hingga 64 tahun.

Sebagian besar kasus tersebut merupakan kanker “sisi kiri”, yaitu kanker yang terjadi pada bagian bawah usus besar dan rektum.

Penelitian yang dipresentasikan pada konferensi Digestive Disease Week 2026 menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat kanker rektum meningkat dua hingga tiga kali lebih cepat dibanding kanker usus besar secara umum di seluruh kelompok demografi.

Faktor lingkungan diduga berperan dalam meningkatnya kasus tersebut. Kanker terjadi akibat kesalahan genetik pada sel. Kesalahan ini dapat muncul secara acak saat sel membelah diri.

Di usus besar, proses pembelahan sel berlangsung sangat aktif. Seluruh lapisan usus besar bahkan dapat terganti setiap minggu.

Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme untuk memperbaiki kerusakan DNA tersebut. Namun ketika jumlah kesalahan meningkat terlalu cepat atau sistem perbaikannya gagal, kanker kolorektal dapat muncul.

Lingkungan di dalam usus memengaruhi tingkat kerusakan dan efektivitas perbaikan tersebut.

Peneliti menemukan adanya hubungan kompleks antara mikrobioma usus, yakni kumpulan mikroorganisme di dalam usus, dengan pola makan, olahraga, dan resistensi insulin.

Peradangan kronis juga dianggap berperan penting. Meski peradangan diperlukan untuk memperbaiki jaringan tubuh, kondisi kronis dapat membuat sel lebih rentan mengalami mutasi dan berkembang menjadi kanker.

Salah satu faktor yang diduga berkontribusi adalah meningkatnya gaya hidup sedentari dan obesitas yang memicu resistensi insulin dan mengganggu keseimbangan mikrobioma usus.

Penggunaan antibiotik pada anak-anak juga meningkat setelah tahun 1960-an dan diduga ikut mengubah kondisi mikrobioma.

Selain itu, perubahan pola makan seperti meningkatnya konsumsi minuman manis dan makanan ultra-proses yang rendah serat juga dicurigai menjadi pemicu.

Serat diketahui membantu menciptakan mikrobioma usus yang sehat dan dapat menekan peradangan. Penelitian juga menunjukkan makanan fermentasi memiliki efek serupa.

Ilmuwan juga menaruh perhatian pada meningkatnya paparan plastik.

Sejumlah penelitian laboratorium menemukan bahwa sel kanker kolorektal dapat menyerap partikel mikroplastik. Penyerapan tersebut diduga meningkatkan kemampuan sel kanker untuk menyebar ke bagian tubuh lain.

Beberapa penelitian pada hewan juga menunjukkan mikroplastik dapat mengganggu fungsi sistem imun sehingga sel kanker lebih mudah lolos dari pertahanan tubuh.

Partikel plastik juga diduga membawa senyawa karsinogenik lebih dalam ke saluran pencernaan.

Salah satu zat yang menjadi perhatian adalah PFOS, bahan kimia “forever chemical” yang ditemukan pada peralatan anti lengket dan busa pemadam kebakaran.

Penelitian menemukan paparan kronis PFOS berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal.

Meski demikian, para peneliti menegaskan belum ada satu penyebab pasti yang benar-benar menjelaskan kenaikan kasus ini.

Beberapa penelitian bahkan menemukan kadar PFOS yang lebih tinggi dalam darah justru berkaitan dengan lebih sedikit kasus kanker kolorektal.

Karena itu, bukti ilmiah mengenai penyebab utama masih belum sepenuhnya jelas.

Gejala apa saja yang perlu diwaspadai? Ilmuwan juga masih belum memahami mengapa kanker pada bagian bawah usus besar dan rektum meningkat lebih cepat dibanding kanker pada bagian atas usus.

Bagian kanan dan kiri usus besar memiliki karakteristik biologis yang berbeda sejak tahap awal perkembangan embrio. Perbedaan ini membuat jalur mutasi genetik yang memicu kanker juga berbeda.

Untuk saat ini, para dokter berupaya meningkatkan kesadaran mengenai gejala awal kanker kolorektal, terutama pada pasien muda.

Gejala awal meliputi perdarahan pada rektum, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, anemia, nyeri perut, darah pada tinja, perubahan kebiasaan buang air besar, mual dan muntah tanpa penyebab pasti.

Masalahnya, banyak gejala tersebut mirip dengan kondisi yang lebih ringan seperti wasir, stres, atau infeksi.

Jenna Scott, warga Atlanta berusia 40 tahun, mulai mengalami gejala saat berusia 29 tahun dan sedang hamil. Namun ia baru mendapat diagnosis pada usia 31 tahun.

Saat itu, kanker telah menyebar ke organ lain. “Saya tidak tahu apakah kanker ini akan seagresif sekarang jika terdeteksi satu setengah tahun lebih awal,” katanya kepada Live Science.

Gejala awal yang dialami Scott adalah perdarahan rektum, tetapi dokter menganggapnya hanya wasir akibat kehamilan.

Penurunan berat badan yang dialaminya juga dianggap perubahan normal setelah melahirkan.

Karena itu, organisasi seperti Colorectal Cancer Alliance kini mendorong peningkatan kesadaran di kalangan tenaga medis agar gejala-gejala tersebut tidak diremehkan pada pasien muda.

Meski skrining rutin baru dimulai pada usia 45 tahun, para ahli meminta masyarakat untuk lebih aktif memeriksakan diri jika mengalami gejala mencurigakan.

“Bukan berarti Anda pasti terkena kanker kolorektal,” kata Michael Sapienza, CEO Colorectal Cancer Alliance. “Tetapi Anda harus menjadi advokat bagi diri sendiri dan segera melakukan pemeriksaan.” (*)

Sumber: Live Science

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Kanker Kolorektal Anak Muda Kanker Usus Besar

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777