https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Presiden Lai Ching-te Ingin Bicarakan Nasib Taiwan dengan Trump

Mutiul Alim | Kamis, 21/05/2026 16:59 WIB



Presiden Taiwan Lai Ching-te menyatakan keinginannya untuk berbicara dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Presiden Taiwan Lai Ching-te berpidato pada hari ulang tahun ke-113 Republik Tiongkok, nama resmi Taiwan, di Taipei, Taiwan 10 Oktober 2024. REUTERS

Taipei, Jurnas.com - Presiden Taiwan Lai Ching-te menyatakan keinginannya untuk berbicara dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Komunikasi tersebut dinilai akan mendobrak protokol diplomatik yang telah berjalan selama lebih dari empat dekade sekaligus berisiko memicu kemarahan China.

Pernyataan ini muncul setelah Trump menyampaikan pada Rabu (20/5) kemarin bahwa dia akan berbicara dengan Lai, di saat Gedung Putih tengah mempertimbangkan penjualan senjata ke pulau demokratis tersebut.

Dikutip dari AFP pada Kamis (21/5), momen ini menjadi kali kedua sejak KTT di Beijing pekan lalu ketika Trump menyatakan niatnya untuk menghubungi pemimpin Taiwan.

Baca juga :
Trump Klaim Perdamaian dengan Iran Semakin Dekat

Hubungan komunikasi langsung semacam ini akan menjadi yang pertama kalinya bagi Presiden Taiwan dan Amerika Serikat yang sedang menjabat untuk saling berbicara, sejak Washington mengalihkan hubungan diplomatik dari Taipei ke Beijing pada 1979.

“Taiwan berkomitmen untuk mempertahankan status quo yang stabil di Selat Taiwan dan China adalah pengganggu perdamaian serta stabilitas. Presiden Lai akan senang mendiskusikan hal-hal ini dengan Presiden Trump,” tulis kementerian luar negeri Taiwan dalam sebuah pernyataan resmi.

Baca juga :
Fasilitasi Doa Bersama untuk Republik, Gedung Putih Tuai Kritik

Di sisi lain, Trump menyatakan bahwa dirinya terbuka untuk berbicara dengan siapapun, dan menyebut telah melakukan pertemuan yang sangat baik dengan Presiden China Xi Jinping dalam kunjungan kenegaraannya ke Beijing pekan lalu.

Setelah menyelesaikan kunjungannya ke Beijing, Trump sempat mengisyaratkan bahwa penjualan senjata ke Taiwan dapat digunakan sebagai posisi tawar dengan China, yang mengeklaim pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya dan mengancam akan merebutnya dengan kekerasan.

Baca juga :
Usai Kunjungan Trump, China bakal Beli Pesawat dari Amerika Serikat

Sejak saat itu, pemerintahan Lai terus bersikap ofensif dengan menegaskan bahwa kebijakan AS terhadap Taiwan tidak berubah, dan Trump tidak membuat komitmen apapun kepada China terkait penjualan senjata ke pulau itu.

Taiwan sejauh ini sangat bergantung pada dukungan AS untuk menangkal potensi serangan China, dan kini berada di bawah tekanan kuat untuk meningkatkan pengeluaran mereka melalui investasi di perusahaan-perusahaan Amerika.

Pada 2016, sesaat setelah kemenangan pemilu pertamanya, Trump yang kala itu berstatus sebagai presiden terpilih sempat menerima panggilan telepon dari Presiden Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen, yang akhirnya memicu kemarahan Beijing serta mengejutkan para diplomat dunia.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Hubungan AS dan Taiwan Presiden Lai Ching-te Donald Trump

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777