Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus. REUTERS
Jenewa, Jurnas.com - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa upaya pengendalian virus hanta masih terus berlanjut menyusul evakuasi besar-besaran dari sebuah kapal pesiar yang dilanda wabah mematikan.
Kondisi kapal MV Hondius sempat memicu kekhawatiran internasional setelah tiga penumpang dilaporkan meninggal dunia akibat serangan virus langka tersebut. Hingga saat ini, belum ada vaksin maupun pengobatan spesifik yang tersedia untuk menangani infeksi ini.
Meskipun demikian, otoritas kesehatan menekankan bahwa risiko terhadap kesehatan masyarakat global masih tergolong rendah. Mereka secara tegas menolak anggapan bahwa situasi ini merupakan awal dari pandemi baru yang serupa dengan Covid-19.
“Tidak ada tanda-tanda bahwa kita sedang melihat awal dari wabah yang lebih besar. Namun tentu saja situasi bisa berubah, dan mengingat masa inkubasi virus yang panjang, ada kemungkinan kita akan melihat lebih banyak kasus dalam beberapa minggu mendatang,” ujar Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez di Madrid, dikutip dari AFP pada Selasa (12/5).
Berdasarkan data resmi yang dihimpun AFP, saat ini tercatat tujuh kasus terkonfirmasi dan satu kasus "mungkin" di antara penumpang serta kru kapal yang masih hidup. Para pasien tersebut berasal dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Spanyol, Swiss, dan Belanda.
Lebih dari 120 orang dari kapal tersebut telah diterbangkan dari Kepulauan Canaria, Spanyol, pada hari Minggu dan Senin. Setiap negara asal kini menerapkan prosedur kesehatan yang berbeda-beda bagi para pengungsi yang kembali ke tanah air mereka.
Mayoritas negara mengikuti arahan WHO yang mewajibkan karantina selama 42 hari dan pemantauan ketat terhadap kontak risiko tinggi. Durasi ini ditetapkan karena masa inkubasi virus hanta dapat memakan waktu hingga enam minggu.
“Saya berharap negara-negara akan mengikuti saran dan rekomendasi yang kami sampaikan,” kata Tedros sembari mengakui bahwa setiap negara memiliki kedaulatan untuk menentukan protokol kesehatan mereka sendiri.
Keberadaan MV Hondius sempat memicu tantangan diplomatik yang rumit terkait negara mana yang bersedia menerima dan merawat para penumpangnya. Tanjung Verde sebelumnya sempat menolak kapal tersebut bersandar, sehingga kapal hanya mampu berhenti di lepas pantai Praia.
Spanyol akhirnya mengizinkan kapal tersebut mendekati Kepulauan Canaria untuk proses evakuasi, meskipun langkah ini mendapat tentangan keras dari pemerintah daerah setempat. Menanggapi polemik tersebut, Perdana Menteri Spanyol memberikan pembelaannya.
“Dunia tidak butuh lebih banyak keegoisan atau rasa takut. Yang dibutuhkan adalah negara-negara yang menunjukkan solidaritas dan bersedia melangkah maju,” ujar Pedro Sanchez.
Kapal MV Hondius telah meninggalkan Tenerife pada Senin kemarin dengan kru minimal dan dijadwalkan tiba di Belanda pada Minggu nanti untuk menjalani proses disinfeksi total. Virus ini diketahui menyebar melalui urine, feses, dan air liur hewan pengerat yang terinfeksi, serta bersifat endemik di Argentina.
Selasa, 12/05/2026 20:15 WIB