Serangan Israel ke Lebanon menewaskan seorang anak berusia 12 tahun (Foto: Arab News)
Beirut, Jurnas.com - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mengatakan bahwa persenjataan kelompoknya bukanlah bagian dari negosiasi mendatang antara Lebanon dan Israel. Dia juga bersumpah bahwa para pejuangnya akan mengubah medan perang menjadi neraka bagi pasukan Israel.
Pernyataan ini muncul menjelang putaran ketiga pembicaraan antara perwakilan Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung Kamis dan Jumat ini di Washington, Amerika Serikat (AS).
Negosiasi ini merupakan kelanjutan dari pertemuan langsung pertama dalam beberapa dekade yang diadakan bulan lalu, yang diikuti dengan pengumuman gencatan senjata oleh Presiden AS Donald Trump.
“Tidak ada seorang pun di luar Lebanon yang memiliki urusan dengan senjata, perlawanan. Ini adalah masalah internal Lebanon dan bukan bagian dari negosiasi dengan musuh,” tegas Naim Qassem dalam sebuah pernyataan tertulis dan disiarkan melalui saluran televisi Al-Manar.
Dikutip dari AFP pada Selasa (12/5), pembicaraan tersebut telah memicu perpecahan di Lebanon. Hizbullah secara tegas menolak negosiasi langsung dengan Israel dan menyatakan bahwa hasil dari pertemuan tersebut tidak menjadi urusan kelompok mereka. Qassem bahkan menyerukan agar otoritas Lebanon menarik diri dari proses diplomasi tersebut.
“Kami menyerukan penarikan diri dari negosiasi langsung, yang merupakan keuntungan murni bagi Israel dan konsesi cuma-cuma oleh otoritas Lebanon. Kami menghadapi agresi Israel-Amerika yang ingin menundukkan negara kami, Lebanon,” ujar Naim Qassem.
Pihak Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan bahwa kesepakatan damai sangat mungkin dicapai, namun menyebut Hizbullah sebagai hambatan utama. Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS menekankan bahwa perdamaian menyeluruh bergantung pada pemulihan penuh otoritas negara Lebanon dan pelucutan senjata total Hizbullah.
Meskipun gencatan senjata telah disepakati pada 17 April, Israel justru meningkatkan serangannya di Lebanon selatan dengan dalih hak untuk bertindak melawan ancaman yang direncanakan atau sedang berlangsung. Menanggapi tekanan ini, Qassem menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan menyerah.
“Kami tidak akan menyerah dan kami akan terus membela Lebanon serta rakyatnya, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan dan seberapa besar pengorbanannya. Kami tidak akan meninggalkan medan perang dan kami akan mengubahnya menjadi neraka bagi Israel,” ujar Naim Qassem menegaskan.
Qassem juga menyebut bahwa kesepakatan antara Iran dan AS yang mencakup penghentian agresi merupakan instrumen terkuat saat ini. Walaupun menyerahkan tanggung jawab kedaulatan kepada otoritas Lebanon, Hizbullah terus melanjutkan serangan terhadap target-target Israel.
Saat ini, pasukan Israel yang melakukan invasi sejak perang pecah pada 2 Maret masih beroperasi di dalam zona garis kuning di dekat perbatasan Lebanon selatan.
Selasa, 12/05/2026 20:48 WIB