Ilustrasi eksperimen ovarium perempuan (Foto: AFP)
Jakarta, Jurnas.com - Gangguan yang diderita oleh 170 juta perempuan di seluruh dunia dan menjadi penyebab utama infertilitas, yang sebelumnya dikenal sebagai sindrom ovarium polikistik atau PCOS, kini resmi berganti nama.
Para peneliti mengumumkan perubahan tersebut pada Selasa (12/5), dalam sebuah pertemuan medis dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas diagnosis dan perawatan pasien.
Nama baru yang dipilih adalah sindrom ovarium metabolik poliendokrin, atau PMOS. Nama ini ditetapkan oleh koalisi global yang terdiri dari pasien, klinisi, dan organisasi medis agar lebih akurat dalam mencerminkan dampak hormonal dan metabolik yang luas dari kondisi tersebut, menurut laporan jurnal The Lancet, yang diterbitkan bersamaan dengan presentasi di Kongres Endokrinologi Eropa di Praha.
Dikutip dari Reuters, penggunaan istilah sindrom ovarium polikistik selama ini sering kali membuat pasien maupun dokter keliru mengasosiasikannya dengan kista ovarium. Padahal, kista ovarium tidak selalu ditemukan pada setiap pasien yang mengidap gangguan ini.
Keterangan tersebut dijelaskan oleh Dr. Terhi Piltonen dari Universitas Oulu, Finlandia, dalam surat penelitian yang diterbitkan pada Senin (11/5) kemarin di JAMA Internal Medicine.
Fokus yang berlebihan pada kista ovarium telah menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan medis yang terfragmentasi. Para peneliti menyatakan bahwa perubahan nama menjadi PMOS bertujuan untuk memperbaiki cara kondisi ini dideteksi, diobati, dan dijelaskan kepada masyarakat luas.
Kesepakatan untuk mengganti nama ini dipimpin oleh beberapa kelompok riset dan Androgen Excess and PCOS Society. Keputusan tersebut didasarkan pada lebih dari 14.000 respons survei dari pasien dan profesional kesehatan di seluruh dunia, dua lokakarya internasional, serta masukan dari 56 organisasi akademis, klinis, dan pasien.
Gejala PMOS meliputi siklus menstruasi yang tidak teratur atau berhenti sama sekali, masalah kesuburan, komplikasi kehamilan, pertumbuhan rambut berlebih, jerawat, kecemasan, dan depresi. Selain itu, penderita juga berisiko mengalami kenaikan berat badan, obesitas, diabetes, gangguan insulin, hingga penyakit kardiovaskular.
Di dalam ovarium, alih-alih kista, perempuan dengan kondisi ini sering kali memiliki jumlah folikel antral yang berlebih, yaitu kantong kecil berisi cairan yang menyimpan sel telur yang belum matang.
Meskipun kondisi ini tidak dapat disembuhkan secara total, gejalanya dapat dikelola dengan obat-obatan serta perubahan pola makan dan olahraga, menurut keterangan dari Endocrine Society.
Rencana transisi menuju terminologi baru ini akan dilakukan selama tiga tahun ke depan. Langkah-langkah yang diambil meliputi integrasi nama PMOS ke dalam sistem kesehatan, pedoman klinis, pelatihan profesional, serta klasifikasi penyakit internasional.
Selasa, 12/05/2026 20:15 WIB