Gunung Puntang (Foto: Via Bandungnews)
Jakarta, Jurnas.com - Gunung Puntang merupakan salah satu gunung di kawasan Pegunungan Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang dikenal luas sebagai destinasi wisata alam sekaligus ruang sejarah dan legenda masyarakat Sunda.
Gunung Puntang menjadi bagian penting dari Pegunungan Malabar–Puntang, sebuah rangkaian pegunungan yang membentuk lanskap hijau khas Bandung Selatan. Gunung yang berada di Desa Cimaung, Kecamatan Banjaran ini menjadi salah satu titik favorit pendaki dan pecinta alam.
Dikutip dari berbagai sumber, Gunung Puntang berada pada ketinggian sekitar 2.223 meter di atas permukaan laut dengan Puncak Mega sebagai salah satu titik tertingginya. Lokasinya dapat ditempuh sekitar 1 hingga 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Bandung, sehingga relatif mudah diakses untuk wisata alam dan pendakian.
Selain akses yang cukup dekat, Gunung Puntang dikenal memiliki lanskap hutan pegunungan yang masih terjaga dan sering digunakan sebagai area camping. Salah satu daya tarik utamanya adalah panorama sunrise dan sunset yang dapat dinikmati dari kawasan Puncak Mega.
Di balik daya tarik alam tersebut, Gunung Puntang juga menyimpan ragam cerita asal-usul nama yang berkembang di masyarakat Sunda. Salah satu versi menyebut nama “Puntang” berasal dari situasi kepanikan saat prajurit kerajaan berlarian mencari putri yang hilang di kawasan hutan sekitar gunung.
Cerita lain menyebut kata “Puntang” berasal dari bahasa Sunda yang diartikan sebagai “megang” atau “pegang”, yang kemudian dikaitkan dengan karakter kawasan Gunung Puntang yang berada di wilayah pegunungan Malabar.
Selain itu, terdapat legenda yang mengaitkan kawasan ini dengan kisah kerajaan yang hilang dan sosok Prabu Siliwangi. Dalam cerita rakyat, wilayah Gunung Puntang disebut pernah menjadi pusat kerajaan yang lenyap secara misterius setelah serangan makhluk gaib.
Di sekitar kawasan ini juga terdapat gua sepanjang sekitar satu kilometer yang terhubung dengan Curug Siliwangi. Masyarakat setempat meyakini jalur tersebut menyimpan kisah spiritual dan peninggalan legenda kerajaan masa lalu, Raja Siliwangi.
Selain legenda, Gunung Puntang juga memiliki nilai sejarah penting pada masa kolonial Belanda. Pada awal abad ke-20, kawasan ini menjadi lokasi pembangunan Radio Malabar yang pernah tercatat sebagai salah satu stasiun radio terbesar di dunia.
Stasiun tersebut dirancang oleh Cornelius Johannes de Groot untuk menghubungkan komunikasi jarak jauh antara Hindia Belanda dan Belanda yang berjarak sekitar 12.000 kilometer. Infrastruktur ini menjadikan Gunung Puntang sebagai salah satu titik penting dalam sejarah teknologi komunikasi Indonesia.
Meski kini hanya menyisakan puing, sisa bangunan Radio Malabar masih dapat ditemukan di kawasan Gunung Puntang dan menjadi daya tarik wisata sejarah. Jejak ini memperlihatkan bagaimana kawasan tersebut pernah memiliki peran strategis di masa lalu.
Seiring waktu, Gunung Puntang berkembang menjadi kawasan wisata alam yang resmi dibuka pada 1998 setelah sebelumnya berstatus hutan produksi. Pada 2005, kawasan ini kemudian ditetapkan sebagai hutan lindung yang menjaga keberlanjutan ekosistemnya.
Kini, Gunung Puntang tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga kawasan konservasi. Beberapa satwa langka seperti Elang Jawa dan Owa Jawa masih dapat dijumpai di kawasan hutan ini.
Selain itu, kawasan ini juga dikenal sebagai penghasil Kopi Puntang yang memiliki cita rasa khas dengan aroma kuat serta perpaduan rasa manis dan asam yang seimbang.
Dengan kombinasi lanskap alam, sejarah kolonial, legenda Sunda, hingga kekayaan hayati, Gunung Puntang menjadi salah satu destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga pengalaman sejarah dan budaya dalam satu kawasan. (*)