Di balik ketenarannya, asal-usul nama “Gunung Puntang” turut menyimpan beragam penafsiran. Lantas, mengapa dinamakan Gunung Puntang? Bagaimana asal usul penamaannya? Berikut adalah ulasannya yang dirangkum dari berbagai sumber.
Nama “Puntang” sering dikaitkan dengan salah satu legenda populer pencarian putri kerajaan yang hilang di gunung tersebut. Penamaannya dianggap berasal dari situasi kepanikan saat para prajurit kerajaan berlarian mencari putri raja yang hilang di kawasan hutan sekitar gunung.
Konon, sang putri diculik makhluk halus sehingga para pengawal kerajaan berpencar dan berlari pontang-panting tanpa arah. Dari peristiwa itulah masyarakat kemudian menyebut kawasan tersebut dengan nama “Puntang”.
Selain versi tersebut, sebagian masyarakat juga meyakini nama “Puntang” berasal dari bahasa Sunda yang berarti “megang” atau “pegang”. Penafsiran itu kemudian dikaitkan dengan posisi Gunung Puntang yang berada di kawasan Gunung Malabar dengan ketinggian sekitar 2.223 mdpl.
Versi lainnya menyebut nama Gunung Puntang berkaitan dengan seorang pangeran yang melarikan diri ke kawasan gunung setelah kalah perang. Sang pangeran diyakini bersembunyi di gua-gua sekitar kaki gunung hingga kawasan itu dikenal sebagai tempat pelarian.
Di sisi lain, masyarakat adat Pasundan juga meyakini Gunung Puntang pernah menjadi pusat kerajaan gaib bernama Negara Puntang yang dikaitkan dengan Prabu Siliwangi. Dalam legenda tersebut, kerajaan itu disebut hilang secara misterius setelah dihancurkan makhluk gaib berbentuk naga besar.
Kepercayaan itu masih berkembang di tengah masyarakat sekitar yang meyakini kawasan hutan Gunung Puntang menyimpan jejak “kerajaan tak kasat mata”. Di bagian timur gunung juga terdapat kawasan Batu Pedang yang dipercaya sebagai pusaka peninggalan Prabu Siliwangi.
Tak jauh dari lokasi tersebut terdapat gua sepanjang sekitar satu kilometer yang terhubung menuju Curug Siliwangi. Menurut mitos yang berkembang, siapa pun yang mampu menelusuri gua hingga ke curug dipercaya akan menemukan jimat peninggalan kerajaan Puntang.
Selain legenda, Gunung Puntang juga memiliki sejarah penting pada masa kolonial Belanda karena pernah menjadi pusat komunikasi internasional Hindia Belanda. Pada 1923, pemerintah kolonial membangun Radio Malabar yang saat itu dikenal sebagai salah satu stasiun radio terbesar di dunia.
Pemancar radio tersebut dirintis oleh Cornelius Johannes de Groot untuk menghubungkan komunikasi antara Hindia Belanda dan Belanda yang berjarak sekitar 12 ribu kilometer. Antena raksasanya membentang sepanjang dua kilometer di antara Gunung Malabar dan Gunung Halimun dengan kekuatan mencapai 1.800 kilowatt.
Namun, kejayaan Radio Malabar tidak berlangsung lama setelah mengalami kerusakan pada masa pendudukan Jepang tahun 1942. Kini, puing-puing bangunan dan sisa fondasi stasiun radio masih dapat ditemukan di kawasan Gunung Puntang sebagai saksi sejarah perkembangan teknologi komunikasi di Indonesia.
Seiring waktu, kawasan Gunung Puntang kemudian berkembang menjadi destinasi wisata alam yang ramai dikunjungi wisatawan. Wisata ini resmi dibuka pada 1998 setelah sebelumnya menjadi kawasan hutan produksi yang dikelola Perhutani sebelum akhirnya ditetapkan sebagai hutan lindung pada 2005.
Saat ini, Gunung Puntang dikenal sebagai salah satu lokasi favorit untuk camping dan menikmati panorama matahari terbit maupun terbenam di Bandung Selatan. Kawasan ini juga memiliki fasilitas cukup lengkap mulai dari area parkir, mushola, toilet, warung makan, hingga camping ground.
Selain menawarkan wisata alam dan sejarah, kawasan Gunung Puntang juga menjadi habitat berbagai flora dan fauna khas Jawa Barat. Beberapa satwa langka seperti Elang Jawa dan Owa Jawa masih dapat ditemukan di kawasan hutan tersebut.
Tak hanya itu, Gunung Puntang juga dikenal lewat produksi kopi arabikanya yang mendunia. Kopi Puntang memiliki aroma kuat dengan rasa manis dan sedikit asam yang menjadi ciri khasnya.
Dengan perpaduan legenda Sunda, sejarah kolonial, dan panorama alam pegunungan, Gunung Puntang menjadi salah satu destinasi paling unik di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Nama “Puntang” menjadi saksi perpaduan antara legenda Sunda, sejarah kolonial, dan kekayaan alam yang membentuk identitas kawasan tersebut hingga saat ini. (*)