Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (Foto: Reuters)
Yerusalem, Jurnas.com - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan ambisinya untuk melepaskan ketergantungan militer negaranya dari dukungan finansial Amerika Serikat (AS) dalam satu dekade ke depan.
Hal ini disampaikan dalam wawancara dengan program `60 Minutes` di CBS News yang disiarkan pada hari Minggu (10/5).
Netanyahu mengungkapkan keinginannya untuk mengatur ulang hubungan finansial AS-Israel yang selama ini mencakup bantuan militer sebesar US$3,8 miliar per tahun.
Meskipun AS telah berkomitmen memberikan total bantuan sebesar US$38 miliar untuk periode 2018–2028, Netanyahu merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mulai bertransformasi.
“Saya ingin menurunkan hingga angka nol dukungan finansial Amerika, komponen finansial dari kerja sama militer yang kita miliki. Saya tidak ingin menunggu Kongres berikutnya; saya ingin memulainya sekarang,” kata Netanyahu dikutip dari Reuters pada Senin (11/5).
Langkah ini diambil di tengah merosotnya dukungan publik dan parlemen AS terhadap Israel sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023. Berdasarkan survei Pew pada Maret lalu, 60 persen warga dewasa AS memiliki pandangan tidak menguntungkan terhadap Israel. Netanyahu menuding manipulasi media sosial oleh negara-negara tertentu sebagai penyebab utama rusaknya citra Israel di mata internasional.
Selain isu bantuan, Netanyahu juga membahas perang yang sedang berlangsung melawan Iran sejak 28 Februari lalu. Perang ini telah memicu lonjakan harga bahan bakar global akibat blokade Iran di Selat Hormuz.
Netanyahu mengakui bahwa pihaknya baru menyadari sepenuhnya besarnya risiko penutupan jalur energi tersebut setelah perang dimulai.
“Jika rezim ini memang melemah atau mungkin digulingkan, saya pikir itu adalah akhir dari Hizbullah, akhir dari Hamas, dan kemungkinan besar akhir dari Houthi, karena seluruh kerangka jaringan proksi teroris yang dibangun Iran akan runtuh. Apakah mungkin untuk menggulingkan rezim Iran? Ya, itu mungkin. Apakah itu terjamin? Tidak,” ujar dia.
Netanyahu menolak untuk merinci jadwal atau rencana militer Israel lebih lanjut di Iran, namun ia menekankan bahwa keberhasilan operasi ini akan menjadi kunci stabilitas jangka panjang di Timur Tengah sekaligus memperkuat hubungan Israel dengan negara-negara Teluk lainnya.