Sebuah kapal tanker minyak berlayar melalui Selat Hormuz pada 17 April 2026, sesaat sebelum Iran mengumumkan bahwa selat tersebut akan ditutup kembali (Foto: Mohammed Aty/Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Iran menyatakan telah menutup kembali Selat Hormuz, dan menyebut keputusan itu sebagai tanggapan terhadap blokade berkelanjutan terhadap pelabuhan-pelabuhannya oleh Amerika Serikat.
Militer Iran pada Sabtu mengatakan bahwa kendali atas jalur air strategis tersebut, yang dilalui oleh 20 persen minyak yang diperdagangkan secara global, telah "kembali ke keadaan semula.
Melansir Aljazeera, laporan menyebutkan bahwa kapal-kapal perang Iran menembaki sebuah kapal dagang saat kapal tersebut mencoba menyeberang.
Penutupan selat itu terjadi beberapa jam setelah dibuka kembali, dengan lebih dari selusin kapal komersial melewati jalur air tersebut, setelah kesepakatan gencatan senjata 10 hari yang dimediasi AS tercapai antara Israel dan Lebanon.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada Sabtu mengatakan dalam sebuah pernyataan, yang dikutip oleh media pemerintah Iran, bahwa blokade AS yang sedang berlangsung terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran merupakan tindakan pembajakan dan pencurian maritim.
IRGC juga menambahkan bahwa kendali atas Selat Hormuz berada "di bawah manajemen dan kendali ketat angkatan bersenjata".
“Hingga AS memulihkan kebebasan navigasi penuh bagi kapal-kapal yang berlayar dari Iran ke tujuan mereka dan kembali, status Selat Hormuz akan tetap dikontrol ketat dan dalam kondisi sebelumnya,” demikian pernyataan tersebut.
Pada pukul 10:30 GMT Sabtu, setidaknya delapan kapal tanker minyak dan gas telah melintasi selat tersebut, tetapi setidaknya jumlah kapal yang sama tampaknya telah berbalik arah, setelah mulai meninggalkan Teluk, lapor kantor berita AFP.
Minggu, 19/04/2026 02:01 WIB
Sabtu, 18/04/2026 21:45 WIB
Selasa, 14/04/2026 21:18 WIB
Sabtu, 18/04/2026 19:16 WIB