Ilustrasi otak manusia (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Epilepsi merupakan gangguan sistem saraf yang ditandai dengan kejang berulang akibat aktivitas listrik otak yang tidak normal. Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, dari anak-anak hingga dewasa.
Banyak orang mengira epilepsi sepenuhnya disebabkan oleh faktor keturunan. Padahal, penyebab epilepsi jauh lebih kompleks dan beragam. Faktor genetik memang berperan pada beberapa jenis epilepsi tertentu. Namun, tidak semua epilepsi diturunkan langsung dari orang tua ke anak.
Pada kasus tertentu, gen hanya meningkatkan kerentanan seseorang terhadap kejang. Artinya, faktor lingkungan tetap berperan besar dalam memicu epilepsi.
Selain genetik, cedera kepala menjadi salah satu penyebab epilepsi yang cukup sering ditemukan. Trauma akibat kecelakaan dapat memengaruhi fungsi otak secara permanen.
Infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis juga dapat memicu epilepsi. Kerusakan jaringan otak akibat infeksi berpotensi menimbulkan kejang berulang.
Gangguan perkembangan otak sejak lahir menjadi faktor risiko lain. Kondisi ini biasanya terdeteksi sejak usia anak-anak. Epilepsi tidak selalu ditandai kejang hebat. Beberapa penderita hanya mengalami tatapan kosong atau kehilangan kesadaran sesaat.
Diagnosis epilepsi memerlukan pemeriksaan medis menyeluruh. Dokter biasanya menggunakan rekam gelombang otak dan pencitraan otak. Dengan pengobatan teratur, sebagian besar penderita epilepsi dapat menjalani hidup normal. Edukasi dan dukungan lingkungan juga sangat penting.
Pemahaman yang tepat membantu menghilangkan stigma terhadap epilepsi. Penyakit ini bukan gangguan menular maupun gangguan kejiwaan.
Rabu, 29/04/2026 16:54 WIB
Rabu, 29/04/2026 15:57 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB