https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Studi: Tekanan Finansial dan Krisis Pangan Mempercepat Penuaan Jantung

Agus Mughni | Minggu, 21/12/2025 19:05 WIB



Studi ini menemukan bahwa tekanan finansial dan ketidakamanan pangan menjadi pendorong terkuat percepatan penuan jantung sekaligus peningkatan risiko kematian Iustrasi tekanan finansial (Foto: Pexels/El Jundi)

Jakarta, Jurnas.com - Selama ini penyakit jantung kerap dikaitkan dengan kolesterol, tekanan darah, atau diabetes. Namun analisis besar dari Mayo Clinic menunjukkan faktor yang kerap luput diperhatikan justru lebih menentukan, yakni kondisi keuangan dan akses terhadap makanan.

Studi yang melibatkan lebih dari 280 ribu pasien dewasa ini menemukan bahwa tekanan finansial dan ketidakamanan pangan menjadi pendorong terkuat percepatan penuaan jantung sekaligus peningkatan risiko kematian. Temuan ini merupakan hasil pengolahan data medis skala besar menggunakan kecerdasan buatan.

Alih-alih hanya mengandalkan usia kalender, peneliti mengukur usia biologis jantung melalui elektrokardiogram berbasis AI. Selisih antara usia jantung dan usia sebenarnya, yang disebut cardiac age gap, menjadi indikator penting risiko kesehatan di masa depan.

Baca juga :
Tekanan Finansial Orang Tua Bisa Memperlambat Perkembangan Otak Bayi

Data dikumpulkan dari pasien Mayo Clinic sepanjang 2018–2023 yang juga mengisi survei kondisi sosial, mulai dari stres, aktivitas fisik, hingga stabilitas ekonomi dan akses pangan. Hasil ECG rutin mereka kemudian dianalisis untuk melihat bagaimana faktor sosial dan medis bersama-sama memengaruhi laju penuaan jantung.

Hasilnya konsisten. Faktor sosial secara keseluruhan menjelaskan variasi penuaan jantung lebih besar dibandingkan banyak risiko medis klasik. Di antara semuanya, masalah keuangan dan kesulitan mendapatkan makanan muncul paling dominan.

Baca juga :
Krisis Iklim Ancam Produksi Pangan Global, Ini Penelitian Terbarunya

Pasien yang kesulitan membayar kebutuhan hidup atau tidak yakin bisa memperoleh makanan yang cukup cenderung memiliki jantung yang “lebih tua” dari usia sebenarnya. Risiko ini tetap terlihat meski sudah dikontrol dengan faktor seperti hipertensi atau diabetes.

Peneliti menilai temuan ini masuk akal secara biologis. Ketika uang terbatas, pengobatan sering tertunda, pola makan bergeser ke makanan murah dan ultra-proses, serta stres kronis meningkat, kombinasi yang mempercepat kerusakan pembuluh darah.

Baca juga :
Bright Institute: Krisis Pangan Mengancam Indonesia

Ketidakamanan pangan juga memicu pola makan tidak teratur yang berdampak pada gula darah dan tekanan darah. Dalam jangka panjang, tekanan ini meninggalkan jejak nyata pada sistem kardiovaskular.

Keunggulan studi ini terletak pada penggunaan ECG, pemeriksaan murah dan umum, untuk membaca sinyal penuaan biologis yang selama ini tersembunyi. Pendekatan ini memungkinkan dokter mengidentifikasi pasien berisiko tinggi yang secara klinis tampak “baik-baik saja.”

Meski bersifat observasional dan perlu diuji lebih luas pada populasi beragam, besarnya sampel dan konsistensi hasil membuat temuan ini sulit diabaikan. Peneliti menekankan bahwa pencegahan penyakit jantung tidak cukup berhenti di ruang pemeriksaan.

Pesan utamanya jelas. Menstabilkan akses pangan dan kondisi ekonomi adalah bagian dari pencegahan penyakit jantung. Tanpa itu, upaya medis terbaik pun berisiko kalah oleh tekanan hidup sehari-hari.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Mayo Clinic Proceedings. Sumber: Earth

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Tekanan Finansial Krisis Pangan Penuaan Jantung Risiko Kematian

Terkini | Kamis, 30/04/2026 01:49 WIB

News

47.834 Jemaah Haji Diberangkatkan, Kemenhaj Ingatkan Patuhi Aturan

News

Bus Jemaah Haji Kecelakaan di Madinah, Kemenhaj Pastikan Penanganan Optimal

News

KPK Buat Dua Kajian untuk Cegah Korupsi pada Sektor Kehutanan

News

ASDP Salurkan Bansos dan Gelar Pelatihan Kewirausahaan Masyarakat Bajoe

News

Perkuat Pembangunan Papua, Transmigrasi Patriot Dirancang Beri Dampak Nyata

News

Satgas PKH Didesak Sita Aset PT BS Kasus Lahan Ilegal di Rokan Hulu

News

Legislator Dorong Santunan Layak bagi Keluarga Guru Korban Tabrakan Kereta

News

Desakan Mundur Dirut KAI Usai Insiden Bekasi Terlalu Prematur

News

Belajar dari Tiongkok, Pemerintahan Prabowo Percepat Pengentasan Kemiskinan

News

Triwulan I, Throughput PTP Nonpetikemas Capai 12,84 Juta Ton

News

Tumbuhkan Ekonomi, MBG Harus Mampu Jadi Platform Pangan Terintegrasi

News

Dosen dan Taruna Pelayaran RI Berpeluang Studi dan Riset ke Panama

News

Suami Bupati Pekalongan Bungkam Usai Diperiksa KPK

Ekonomi

Kuartal I, Penerimaan Sektor Digital Capai Rp4,48 Triliun

News

Cak Imin-Gus Ipul Bicara Sekolah Rakyat, Ditargetkan Capai 400 Ribu Siswa

News

DPR Minta Pengawasan dan Penindakan Diperketat di Perlintasan Sebidang

Ekonomi

BP BUMN Pastikan Penanganan dan Santunan Bagi Korban di Bekasi Timur

News

KPK Dalami Pihak Pemberi Modal Politik Sugiri Sancoko Jadi Bupati Ponorogo

Terpopuler

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777