Ilustrasi - Brain rot (FOTO: SHUTTERSTOCK)
Jakarta, Jurnas.com - Istilah brainroot belakangan ramai digunakan untuk menggambarkan kondisi menurunnya fokus, daya ingat, dan kejernihan berpikir akibat kebiasaan sehari-hari yang tampak sepele.
Tanpa disadari, pola hidup modern, terutama yang berkaitan dengan gawai dan kurangnya istirahat, dapat mempercepat kelelahan kognitif.
Kebiasaan doomscrolling memaksa otak memproses informasi cepat dan dangkal secara terus-menerus. Akibatnya, kemampuan fokus jangka panjang menurun dan otak mudah lelah.
Mengerjakan banyak hal sekaligus seperti chat, email, video, dan pekerjaan, membuat otak sering berpindah fokus. Pola ini mengganggu konsentrasi mendalam dan menurunkan kualitas pengambilan keputusan.
Tidur yang tidak cukup menghambat proses pemulihan otak dan konsolidasi memori. Dalam jangka panjang, kurang tidur berkaitan dengan penurunan atensi dan kecepatan berpikir.
Paparan layar berkepanjangan (ponsel, laptop, TV) dapat memicu kelelahan mental, sakit kepala, dan gangguan fokus. Tanpa jeda, otak sulit mempertahankan performa kognitif optimal.
Kebiasaan mengonsumsi junk food tinggi gula dan lemak jenuh berpengaruh pada kesehatan otak. Asupan nutrisi yang buruk dapat memperburuk konsentrasi dan energi mental.
Jarang membaca, berdiskusi, atau melatih otak (misalnya menulis, teka-teki) membuat stimulasi kognitif menurun. Otak membutuhkan tantangan teratur agar tetap tajam.
Rabu, 29/04/2026 21:30 WIB
Sabtu, 25/04/2026 04:04 WIB
Kamis, 23/04/2026 06:30 WIB