https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Pengamat: Kasus SMAN 1 Cimarga Bukti Kegagalan Pendidikan

Mutiul Alim | Minggu, 19/10/2025 21:15 WIB



Pengamat pendidikan, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya, menyayangkan kasus siswa merokok berujung pelaporan polisi di SMAN 1 Cimarga. Pengamat Pendidikan, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Pengamat pendidikan, I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya, menyayangkan kasus siswa merokok yang berujung pelaporan kepala sekolah oleh orang tua siswa ke polisi di SMA Negeri 1 Cimarga, Lebak, Banten.

Yadnya mengatakan bahwa sekolah yang seharusnya menjadi tempat pembentukan karakter justru berubah menjadi panggung konflik antara disiplin, emosi, dan kehilangan empati.

"Peristiwa ini bukan sekadar soal tamparan atau rokok, tetapi potret krisis hukum, krisis moral, dan krisis kesehatan mental yang semakin dalam di ruang pendidikan kita," kata dia kepada Jurnas.com pada Minggu (19/10).

Baca juga :
Legislator PKB: Pelaporan Kepala Sekolah SMAN 1 Cimarga ke Polisi Tak Bijak

Yadnya menyebut bahwa merokok di lingkungan sekolah bukan pelanggaran ringan semata. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 telah mengatur larangan tegas larangan merokok, yang ditujukan bagi siswa, guru, maupun pegawai.

Karena itu, kepala kekolah sebagai penanggung jawab tertinggi di sekolah punya wewenang memberikan teguran atau tindakan terhadap pihak yang melanggar aturan merokok.

Baca juga :
Pengamat: Nadiem Memuaskan, Cocok Pimpin Mendikbud Ristek

Sayangnya, para guru juga menghadapi dilema berat. Mereka dituntut menegakkan disiplin, tetapi setiap tindakan keras dapat berujung laporan hukum dan tekanan publik.

Guru akhirnya berdiri di antara dua kutub, yakni antara kewajiban moral mendidik dan ketakutan menghadapi konsekuensi hukum.

Baca juga :
Rektor Asing, Pengamat: Menristekdikti Jangan Asal Comot

"Kasus ini menunjukkan kegagalan sistemik dalam pendidikan karakter. Terjadi pembiaran terhadap perilaku siswa kecanduan merokok yang mengakibatkan kebiasaan berbohong," ujar Yadnya.

"Sekolah terlalu fokus pada hasil akademik, tetapi abai pada penguatan emosi, moral, dan spiritualitas," dia menambahkan.

Selain itu, Yadnya juga menyoroti aksi mogok 630 siswa SMAN 1 Cimarga siswa sebagai bentuk solidaritas kepada siswa yang terkena hukuman akibat merokok. Menurut dia, ini mencerminkan pergeseran nilai solidaritas di kalangan pelajar.

"Situasi ini menandakan adanya krisis psikologis massal di sekolah. Murid frustrasi, guru kelelahan mental, dan suasana belajar berubah tegang," kata dia.

Dia menambahkan bahwa salah satu solusi konkret saat ini ialah terapi kesehatan mental massal di sekolah. Program ini dapat dirancang sebagai bagian dari healing process bagi seluruh warga sekolah, bukan bentuk hukuman.

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

SMAN 1 Cimarga Siswa Merokok Pengamat Pendidikan I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777