https://www.jurnas.com/images/img/conf-Jurnas_11.jpg
Beranda News Ekonomi Ototekno Hiburan Gaya Hidup Olahraga Humanika Warta MPR Kabar Desa Terkini

Legislator Dukung Menkeu Tolak Beban Utang Kereta Cepat ke APBN

Samrut Lellolsima | Kamis, 16/10/2025 13:27 WIB



Menhub Jonan dulu sudah memperingatkan bahwa proyek ini akan sulit dibayar. Kekhawatiran itu kini terbukti. Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKS, Anis Byarwati. (Foto: Dok. Humas Fraksi PKS)

Jakarta, Jurnas.com - Beban utang proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh tidak semestinya dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati sepakat dengan sikap tegas Menteri Keuangan Purbaya yang menolak pembayaran utang proyek tersebut menggunakan dana negara.

“Tidak tepat jika APBN yang harus menanggung, kondisi itu justru memperberat kondisi keuangan negara yang sudah dalam keadaan terbatas,” ujar Anis, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/10).

Baca juga :
Lembaga HAM Israel Beberkan Lokasi Penahanan Jurnalis Indonesia

Politikus PKS itu menjelaskan, sejak awal proyek KCJB telah menimbulkan berbagai persoalan. Ia menyoroti bahwa proyek tersebut tidak termasuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2030 dan bahkan sempat tidak disetujui oleh Menteri Perhubungan saat itu, Ignasius Jonan.

“Menhub Jonan dulu sudah memperingatkan bahwa proyek ini akan sulit dibayar. Kekhawatiran itu kini terbukti,” kata Anis.

Baca juga :
WHO Curiga Wabah Ebola di Kongo Sudah Menyebar Berbulan-bulan

Berdasarkan informasi yang beredar, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI)—anak usaha PT KAI yang menjadi pemegang saham terbesar di PT KCIC—mencatat kerugian sebesar Rp4,195 triliun pada 2024. Kerugian berlanjut hingga semester I-2025 sebesar Rp1,625 triliun.

“Data BPS menunjukkan, kereta cepat hanya ramai saat liburan. Padahal biaya investasi dan operasionalnya sangat besar,” ujarnya.

Baca juga :
Intelijen Eropa Sebut China Diam-Diam Latih Tentara Rusia

Anis menilai, kondisi tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemerintah agar lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan yang melibatkan kepentingan publik.

“Perusahaan BUMN yang awalnya sehat kini terbebani membayar utang Rp2 triliun per tahun untuk proyek kereta cepat yang merupakan penugasan presiden terdahulu, padahal pembantunya sudah mengingatkan sejak awal,” ungkap doktor ekonomi lulusan Universitas Airlangga tersebut.

Lebih lanjut, Anis menekankan agar penggunaan APBN difokuskan hanya pada hal-hal yang benar-benar esensial.

Ia juga menyinggung ketentuan baru dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2025 tentang BUMN, di mana dividen BUMN disetorkan ke Danantara dan tidak langsung masuk APBN.

“Karena itu, Danantara harus mampu mengelola dan mencari solusi tanpa membebani APBN lagi,” ujarnya.

 

 

Ikuti Update jurnas.com di

Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1

KEYWORD :

Warta DPR Komisi XI Legislator PKS Anis Byarwati kereta cepat beban utang dana negara

https://journals.daffodilvarsity.edu.bd/?login=

toto macau

dota777 pulsa777 daftar pulsa777