Kamis, 16/05/2024 08:15 WIB

PBB: Ada Stigma "Beracun" yang Mengancam Pengungsi

Ada stigmatisasi pengungsi dan migran yang belum pernah terjadi sebelumnya, kata Grandi.

Anak-anak pengungsi Irak (foto: UPI)

New York, Jurnas.com - Kepala pengungsi PBB menyebut stigma terhadap pengungsi, migran, dan orang asing di media sosial semakin buruk dan "beracun".

Komisaris Tinggi untuk Pengungsi Filippo Grandi mengatakan, serangan 15 Maret di sebuah masjid di Christchurch, Selandia Baru yang menewaskan 50 jamaah Muslim merupakan akibat dari stigma yang beracun itu.

Karena itu, Grandi mendesak dunia internasional mengambil pelajaran dari tanggapan rakyat dan kepemimpinan Selandia Baru, dalam memandang migran dan pengungsi, serta mendorong solidaritas global.

"Bahwa masyarakat kita tidak akan benar-benar sejahtera, stabil, dan damai jika mereka tidak dirangkul," ujar Grandi dilansir dari Associated Press pada Rabu (10/4).

Diketahui, seorang supremasi kulit putih Australia, Brenton Harrison Tarrant, yang didakwa melakukan pembunuhan di masjid yang meliputi banyak imigran, menyiarkan langsung penembakan itu di media sosial, dengan didahului mengirim sebuah manifesto yang panjang.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan, dunia telah terjebak dalam lingkaran setan ekstremisme yang harus berakhir, dan dia tidak akan pernah membiarkan hal tersebut berulang lagi.

"Ada stigmatisasi pengungsi dan migran yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan tanggapannya semakin tidak memadai," terang Grandi.

Sepanjang bekerja dengan para pengungsi selama lebih dari tiga dekade, Grandi telah melihat "banyak solidaritas, bahkan kepahlawanan dalam beberapa tanggapan yang diberikan di lapangan" untuk membantu mereka.

Dan "solidaritas itu masih sangat kuat" di banyak bagian dunia, dari desa-desa Afrika hingga perbatasan antara Bangladesh dan Myanmar, hingga komunitas-komunitas di Amerika Latin yang membantu Venezuela.

"Dalam dekade ini saya belum pernah melihat racun seperti itu, racun seperti itu dalam bahasa politik, di media, di media sosial, bahkan dalam diskusi sehari-hari dan percakapan seputar masalah ini, toksisitas yang berfokus dengan sedih, tragis, sering , pada pengungsi, pada migran, pada orang asing. Itu harus menjadi perhatian kita semua," tegas dia.

KEYWORD :

Pengungsi PBB Filippo Grandi




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :