Ilustrasi suhu panas. Foto: kupastuntas
Jakarta, Jurnas.com - Hutan tropis dunia menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin serius. Suhu ekstrem yang melanda kawasan hutan pada 2023–2024 berpotensi menjadi kondisi tahunan yang lazim dalam beberapa dekade mendatang, meningkatkan risiko kekeringan, kematian pohon, hingga krisis bagi masyarakat yang bergantung pada hutan.
Peringatan tersebut berasal dari penelitian yang dipimpin Johanna Van Passel, ahli ekologi dari Ghent University. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Earth’s Future itu menunjukkan bahwa kondisi panas ekstrem yang sebelumnya dianggap sebagai peristiwa luar biasa dapat menjadi kenyataan baru bagi sebagian besar kawasan tropis, bahkan ketika fenomena El Nino tidak terjadi.
Fenomena El Nino 2023–2024 memberikan tekanan besar terhadap ekosistem hutan tropis. Selama berbulan-bulan, sekitar tiga perempat kawasan hutan tropis dunia mengalami panas ekstrem dan kekeringan secara bersamaan.
Untuk mengukur dampaknya, Van Passel dan timnya menganalisis 12 kumpulan data pengamatan suhu dan kekeringan selama 25 tahun terakhir. Penelitian tersebut mencakup hampir 16 juta kilometer persegi kawasan hutan tropis di seluruh dunia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa hutan tropis mengalami suhu yang tidak biasa tinggi selama rata-rata sekitar 18 bulan. Sekitar 80 persen kawasan hutan juga mengalami kondisi lebih kering daripada biasanya, dengan curah hujan berkurang sekitar 22 hingga 56 milimeter per bulan.
Dampak kekeringan bahkan berlangsung hingga dua tahun di sejumlah wilayah Amazon. Di pelabuhan Manaus, Brasil, permukaan air sungai turun ke tingkat terendah sejak pencatatan lebih dari satu abad lalu.
Kondisi tersebut terjadi ketika suhu global juga mencatat rekor tinggi, sehingga memperparah dampak El Nino terhadap kawasan tropis.
Untuk mengetahui bagaimana kondisi tersebut dapat berkembang, tim peneliti menggunakan proyeksi dari 24 model sistem Bumi dengan berbagai skenario emisi.
Hasilnya menunjukkan bahwa risiko panas ekstrem akan meningkat secara signifikan sepanjang abad ini. Bahkan, dalam skenario moderat ketika dunia mencapai netralitas karbon pada 2075, suhu tahunan tinggi seperti yang terjadi pada 2023 dan 2024 diproyeksikan setidaknya enam kali lebih mungkin terjadi di seluruh kawasan tropis pada 2100.
Sementara itu, dalam skenario emisi yang lebih tinggi, suhu tersebut diperkirakan menjadi kondisi tahunan yang lazim di sebagian besar kawasan tropis pada 2043.
Bagi Van Passel, proyeksi dalam rentang waktu dua dekade menjadi salah satu temuan yang paling mencolok. Ancaman perubahan iklim yang tampak jauh di masa depan ternyata dapat menjadi kenyataan dalam waktu yang relatif dekat.
Meski begitu, proyeksi kekeringan tidak seragam di semua wilayah. Asia berpotensi mengalami kekeringan yang lebih jarang, sedangkan kawasan Amazon menghadapi risiko yang jauh lebih besar.
Dalam skenario emisi tinggi, kondisi curah hujan rendah seperti pada 2023–2024 di Amazon dapat menjadi hingga sembilan kali lebih mungkin terjadi pada tahun tertentu.
Mengapa panas dan kekeringan berbahaya bagi pohon? Panas ekstrem dan kekeringan menjadi kombinasi berbahaya karena memaksa pohon menghadapi dua tekanan yang saling bertentangan.
Ketika kekurangan air, pohon menutup stomata, yaitu pori-pori kecil pada daun yang mengatur pertukaran gas dan pelepasan uap air. Mekanisme ini membantu mengurangi kehilangan air, tetapi sekaligus membatasi penyerapan karbon dioksida yang dibutuhkan untuk fotosintesis.
Akibatnya, kemampuan pohon untuk menghasilkan energi dan menyerap karbon dari atmosfer dapat menurun.
Di sisi lain, suhu yang terlalu tinggi dapat merusak proses internal yang memungkinkan pohon melakukan fotosintesis. Dalam kondisi normal, pohon juga melepaskan air melalui stomata untuk membantu mendinginkan dirinya.
Ketika panas ekstrem terjadi bersamaan dengan kekeringan, kedua mekanisme tersebut sulit dipertahankan sekaligus. Pohon harus menghemat air agar tidak mengering, tetapi juga membutuhkan pelepasan air untuk mengurangi panas.
Van Passel menggambarkan situasi tersebut sebagai pilihan yang sangat sulit bagi pohon: menghadapi kematian akibat kekurangan air atau akibat panas.
Jika tekanan ini berlangsung terus-menerus, risiko kerusakan ekosistem dan kematian pohon secara luas dapat meningkat.
Ancaman terhadap hutan tropis tidak berhenti pada kemampuan pohon bertahan hidup. Hutan juga berperan penting dalam mengatur siklus air dan membantu mempertahankan curah hujan di wilayah sekitarnya.
Melalui proses evapotranspirasi, hutan melepaskan uap air dari tanah dan tumbuhan ke atmosfer. Di Amazon, proses ini berkontribusi terhadap hingga 30 persen dari total curah hujan.
Ketika hutan mengalami tekanan akibat panas dan kekeringan, evapotranspirasi dapat menurun. Akibatnya, jumlah uap air yang tersedia untuk membentuk hujan di kawasan lain ikut berkurang.
Wilayah yang menerima lebih sedikit hujan kemudian menghadapi tekanan kekeringan serupa. Hutan di kawasan tersebut juga mengurangi pelepasan air untuk mempertahankan cadangan kelembapannya, sehingga memperkuat siklus kekeringan.
Menurut Van Passel, mekanisme ini dapat membentuk lingkaran umpan balik yang membuat kondisi semakin buruk. Jika tekanan panas dan kekeringan cukup parah, hutan tropis berisiko mengalami kematian pohon secara luas.
Dampaknya tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga dapat melemahkan fungsi hutan sebagai penyerap karbon dan pengatur iklim regional.
Perubahan kondisi hutan tropis juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan tersebut. Banyak komunitas mengandalkan hutan dan sungai untuk memenuhi kebutuhan pangan, menjalankan aktivitas sehari-hari, serta melakukan perjalanan dan mengangkut barang.
Kekeringan yang menurunkan permukaan sungai dapat menghambat transportasi dan memutus akses menuju permukiman terpencil. Situasi seperti ini terjadi selama El Nino 2023–2024, ketika sejumlah sungai menjadi terlalu dangkal untuk dilalui.
Van Passel menjelaskan bahwa sebagian masyarakat sampai terisolasi karena perahu tidak dapat beroperasi dan pasokan makanan tidak bisa menjangkau mereka. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana gangguan iklim dapat berkembang menjadi persoalan ketahanan pangan dan kehidupan sosial.
Ketika hutan mengalami kerusakan, masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut ikut menanggung dampaknya. Karena itu, ancaman terhadap hutan tropis tidak semata-mata menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup manusia.
Meski proyeksi penelitian menunjukkan ancaman yang serius, Van Passel menegaskan bahwa masa depan hutan tropis belum sepenuhnya ditentukan. Pilihan manusia dalam mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menekan emisi tetap berpengaruh terhadap tingkat risiko yang akan dihadapi.
Setiap langkah untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dapat memperbaiki peluang menghadapi perubahan iklim yang lebih terkendali.
Penelitian ini menegaskan bahwa panas ekstrem yang melanda hutan tropis pada 2023–2024 tidak bisa dipandang hanya sebagai kejadian sesaat. Dalam skenario emisi tinggi, kondisi serupa dapat menjadi bagian dari pola iklim tahunan di banyak wilayah tropis dalam waktu sekitar dua dekade.
Upaya menekan emisi dan membatasi pemanasan global menjadi penting untuk mengurangi tekanan terhadap hutan, menjaga siklus air, serta melindungi masyarakat yang menggantungkan hidup pada ekosistem tersebut. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Hutan Tropis Perubahan Iklim Panas Ekstrem El Nino



















