Minggu, 23/08/2026 13:36 WIB

Studi: Kehilangan Orang Tua Gandakan Risiko Gangguan Mental pada Anak





 Kehilangan orang tua dapat mengubah kehidupan anak secara mendalam, bukan hanya dari sisi tempat tinggal dan rutinitas, tetapi juga kesehatan mental

Ilustrasi anak kehilangan orangtua (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Kehilangan orang tua dapat mengubah kehidupan anak secara mendalam, bukan hanya dari sisi tempat tinggal dan rutinitas, tetapi juga kesehatan mental.

Studi terbaru di Australia menemukan anak yang mengalami kehilangan orang tua memiliki risiko sekitar dua kali lebih tinggi mengalami gangguan mental dibandingkan anak yang tidak mengalaminya.

Penelitian yang diterbitkan dalam Australian Journal of Psychology itu menemukan 21,4 persen anak yang mengalami kehilangan orang tua memiliki setidaknya satu gangguan mental, dibandingkan 10,8 persen pada anak yang tidak mengalami kehilangan orang tua.

Dikutip dari Earth, peneliti menekankan bahwa temuan tersebut menunjukkan hubungan yang kuat, tetapi tidak membuktikan bahwa kehilangan orang tua secara langsung menyebabkan gangguan mental.

Dalam penelitian ini, istilah kehilangan orang tua mencakup tiga kondisi, yakni kematian orang tua biologis, perpisahan orang tua, atau orang tua yang berada dalam tahanan.

Masing-masing kondisi memiliki pengalaman berbeda, tetapi semuanya dapat membawa perubahan besar pada hubungan keluarga, kehidupan di rumah, rutinitas dan rasa aman anak.

"Kehilangan orang tua lebih umum terjadi daripada yang disadari banyak orang dan memiliki dampak yang jelas serta dapat diukur terhadap kesehatan mental anak," kata penulis utama penelitian, Profesor Lauren Breen dari Curtin University.

Penelitian tersebut menggunakan data survei nasional Australia yang melibatkan 6.310 keluarga dengan anak berusia 4 hingga 17 tahun. Pengasuh menjawab pertanyaan mengenai kondisi keluarga dan kesehatan mental salah satu anak dalam keluarga tersebut.

Peneliti menilai tujuh kondisi kesehatan mental, termasuk kecemasan, depresi, ADHD, masalah kontrol perhatian dan impuls, serta masalah perilaku serius. Dari seluruh data, perpisahan orang tua menjadi bentuk kehilangan yang paling umum.

Peneliti memperkirakan 31,8 persen anak telah mengalami perpisahan orang tua sebelum berusia 17 tahun. Sementara itu, 2,5 persen mengalami kematian orang tua biologis dan 0,3 persen memiliki orang tua yang berada dalam tahanan.

Secara keseluruhan, 37,8 persen anak tidak tinggal bersama kedua orang tua biologisnya pada usia 17 tahun. Kelompok tersebut juga mencakup kondisi lain, seperti orang tua yang tinggal di tempat berbeda atau untuk sementara tidak hadir.

Perbedaan kondisi kesehatan mental terlihat pada berbagai bentuk kehilangan orang tua. Pada anak yang mengalami perpisahan orang tua, 20,2 persen mengalami gangguan mental, dibandingkan 11,9 persen pada anak yang orang tuanya tidak berpisah.

Pada kelompok yang memiliki orang tua dalam tahanan, angkanya mencapai 21,9 persen, dibandingkan 13,9 persen pada anak yang tidak memiliki orang tua dalam tahanan.

Namun, peneliti memberikan catatan penting terhadap kelompok terakhir. Hanya 13 anak yang masuk dalam kategori tersebut sehingga datanya terlalu kecil untuk menghasilkan kesimpulan yang kuat.

Sementara itu, angka tertinggi ditemukan pada anak yang mengalami kematian orang tua biologis. Sebanyak 28,8 persen anak dalam kelompok ini mengalami setidaknya satu gangguan mental, dibandingkan 13,7 persen pada anak yang tidak mengalami kematian orang tua.

"Anak-anak yang kehilangan orang tua karena meninggal memiliki tingkat gangguan mental tertinggi dibandingkan kelompok lainnya, yakni sebesar 28,8 persen," kata Breen.

Dampak paling tinggi terlihat pada kelompok anak berusia 4 hingga 11 tahun yang kehilangan orang tua biologis karena kematian.

Dalam kelompok tersebut, 38,3 persen mengalami gangguan mental. Namun, peneliti mengingatkan jumlah anak dalam subkelompok tersebut relatif kecil sehingga angka tersebut memiliki tingkat ketidakpastian yang cukup besar dan tidak dapat dianggap sebagai angka yang berlaku untuk semua anak.

"Terutama pada anak-anak yang lebih muda, dampaknya dapat menjadi sangat berat," ujar Breen.

Menurutnya, kehilangan orang tua karena kematian merupakan salah satu pengalaman paling berat dalam masa kanak-kanak dan telah lama dikaitkan dengan meningkatnya risiko masalah kesehatan mental.

Meski menunjukkan peningkatan risiko, penelitian ini tidak berarti setiap anak yang kehilangan orang tua akan mengalami gangguan mental.

Shelley Skinner, CEO sekaligus pendiri Lionheart Camp for Kids, organisasi nirlaba yang mendukung keluarga berduka, mengatakan banyak anak yang kehilangan anggota keluarga tetap dapat tumbuh sehat dan menjalani kehidupan yang produktif.

"Banyak anak yang mengalami kehilangan anggota keluarga karena kematian tetap dapat tumbuh menjadi pribadi yang bahagia dan sehat serta menjalani kehidupan yang normal dan produktif," kata Skinner.

Namun, setiap keluarga dapat membutuhkan bentuk bantuan yang berbeda ketika mendampingi anak melewati masa berduka.

Peneliti menyoroti pentingnya akses terhadap dukungan kesehatan mental bagi anak yang mengalami kehilangan orang tua. Dukungan tersebut dapat berupa terapi yang berfokus pada proses berduka maupun program yang melibatkan keluarga.

Masalahnya, tidak semua keluarga mudah mendapatkan bantuan. Waktu tunggu yang panjang, biaya layanan yang mahal, keterbatasan tenaga profesional dengan keahlian khusus mengenai duka anak, serta ketidakjelasan tempat mencari bantuan menjadi sejumlah hambatan.

"Anak-anak yang sedang berduka dan keluarga mereka sering menghadapi berbagai kendala, seperti daftar tunggu yang panjang, biaya yang tinggi, serta ketidaktahuan tentang ke mana harus mencari bantuan," kata Breen.

Karena itu, peneliti mendorong identifikasi lebih awal terhadap anak yang mengalami kehilangan orang tua dan penyediaan layanan kesehatan mental yang mudah diakses serta berbasis bukti.

Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Data hanya berfokus pada orang tua biologis sehingga tidak sepenuhnya menggambarkan peran stepparent atau figur pengasuh lain yang juga penting dalam kehidupan anak.

Informasi mengenai kondisi kesehatan mental juga diberikan oleh pengasuh. Selain itu, survei tersebut hanya menggambarkan kondisi pada satu periode dan tidak mengikuti anak secara langsung sebelum dan setelah mengalami kehilangan.

Artinya, hasil penelitian menggambarkan pola pada tingkat populasi, bukan menentukan masa depan setiap anak.

Kehilangan orang tua tidak membuat gangguan mental menjadi sesuatu yang pasti terjadi. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi ini cukup umum dan berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai masalah kesehatan mental, sehingga anak yang mengalaminya perlu lebih cepat dikenali dan mendapatkan dukungan yang sesuai. (*)

Sumber: Earth

KEYWORD :

Kehilangan Orangtua Risiko Gangguan Mental Anak Tanpa Orangtua




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :