Selasa, 16/06/2026 19:18 WIB

Studi: Remaja Putri Paling Rentan Alami Gangguan Mental Akibat Media Sosial





Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental pada remaja, terutama remaja putri usia awal belasan tahun

Ilustrasi salah satu kebiasaan yang harus dihindari ialah terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial (Foto: Pexels/SHVETS production)

Jakarta, Jurnas.com - Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental pada remaja, terutama remaja putri usia awal belasan tahun.

Temuan tersebut terungkap dalam studi jangka panjang yang dilakukan para peneliti Australia dan dipublikasikan dalam Medical Journal of Australia.

Dikutip dari Earth, penelitian yang dilakukan oleh Murdoch Children`s Research Institute (MCRI) dan Deakin University tersebut mengikuti hampir 1.200 anak dan remaja di Melbourne selama lebih dari satu dekade melalui program Child to Adult Transition Study (CATS).

Para peserta mulai mengikuti penelitian saat berusia 8 hingga 9 tahun. Setiap tahun mereka diminta melaporkan durasi penggunaan media sosial serta kondisi kesehatan mental yang mereka alami.

Peneliti kemudian menganalisis apakah penggunaan media sosial dalam satu tahun berkaitan dengan munculnya masalah kesehatan mental pada tahun berikutnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari dua jam per hari memiliki kemungkinan lebih besar mengalami gejala depresi dibandingkan mereka yang menggunakannya kurang dari satu jam per hari.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa peningkatan risiko tersebut tergolong kecil. Dari setiap 100 remaja pengguna berat media sosial, sekitar lima orang lebih banyak mengalami perasaan sedih atau depresi dibandingkan kelompok pengguna ringan.

Selain depresi, tingkat kesejahteraan psikologis (well-being) juga mengalami penurunan. Namun, penelitian ini menemukan bahwa hubungan antara penggunaan media sosial dengan kecemasan maupun perilaku menyakiti diri sendiri relatif kecil.

Temuan yang paling menonjol muncul ketika data dianalisis berdasarkan jenis kelamin. Risiko kesehatan mental pada remaja putri ditemukan hampir dua kali lebih besar dibandingkan remaja laki-laki.

Remaja putri yang menggunakan media sosial lebih dari dua jam per hari cenderung melaporkan kondisi emosional yang lebih buruk. Bahkan penggunaan selama satu hingga dua jam per hari sudah menunjukkan dampak terhadap kesejahteraan psikologis mereka. Sebaliknya, dampak serupa hampir tidak terlihat pada remaja laki-laki.

Penelitian juga menemukan bahwa usia menjadi faktor yang sangat menentukan. Dampak paling kuat terlihat pada remaja putri berusia 12 hingga 13 tahun, yakni masa awal memasuki remaja.

Pada kelompok usia tersebut, penggunaan media sosial secara intensif dikaitkan dengan tambahan sekitar 12 kasus per 100 remaja putri yang mengalami perasaan sedih atau tidak bahagia dibandingkan kelompok dengan penggunaan lebih rendah.

“Awal masa remaja menjadi periode ketika tingkat penggunaan media sosial yang lebih tinggi berkaitan dengan risiko masalah kesehatan mental yang lebih besar pada tahun berikutnya,” kata Dr. Nandi Vijayakumar dari MCRI dan Deakin University.

Menurut para peneliti, masa awal remaja merupakan periode yang rentan karena berbagai perubahan terjadi secara bersamaan. Remaja putri umumnya mengalami pubertas lebih awal dibandingkan laki-laki, sementara bagian otak yang mengatur emosi masih dalam tahap perkembangan.

Pada saat yang sama, mereka mulai aktif menggunakan media sosial dan terpapar berbagai konten yang memicu perbandingan sosial, konflik, maupun komentar negatif dari pengguna lain.

Penelitian ini juga sejalan dengan studi sebelumnya di Inggris yang menemukan bahwa anak perempuan berusia 11 hingga 13 tahun yang lebih sering menggunakan media sosial cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah satu tahun kemudian.

Meski peningkatan risiko terlihat relatif kecil secara individu, para peneliti menilai dampaknya tetap penting karena media sosial digunakan oleh jutaan remaja di seluruh dunia.

“Walaupun peningkatan risiko dalam penelitian kami tergolong kecil, dampaknya tetap penting bagi kesehatan masyarakat ketika jumlah remaja yang terpapar sangat besar,” ujar Dr. Vijayakumar.

Temuan tersebut muncul di tengah perdebatan global mengenai dampak media sosial terhadap generasi muda. Australia bahkan baru-baru ini mengesahkan regulasi yang membatasi akses media sosial bagi kelompok usia tertentu.

Profesor Susan Sawyer dari MCRI mengatakan hasil penelitian ini memberikan bukti yang lebih kuat terkait dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja.

“Kekhawatiran tentang dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja telah memicu berbagai perdebatan kebijakan di seluruh dunia. Namun selama ini bukti mengenai dampaknya pada tingkat populasi masih terbatas,” kata Sawyer.

Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa media sosial tidak sepenuhnya berdampak negatif. Banyak remaja mengaku media sosial membantu mereka tetap terhubung dengan teman, menemukan komunitas, serta mengekspresikan diri.

“Hasil penelitian kami tidak menunjukkan bahwa media sosial selalu berbahaya, tetapi juga bukan tanpa risiko,” ujar Sawyer.

Karena itu, para peneliti menilai langkah yang paling efektif bukanlah melarang penggunaan media sosial secara total, melainkan menerapkan batasan penggunaan yang sesuai usia, meningkatkan literasi digital, serta memperkuat pendampingan orang tua.

Mereka menyimpulkan bahwa perlindungan terhadap remaja usia awal, khususnya perempuan, dapat menjadi langkah awal yang paling efektif untuk mengurangi dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental generasi muda. (*)

KEYWORD :

Remaja Putri Risiko Gangguan Mental Media Sosial Anak Perempuan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :