Kamis, 13/08/2026 20:27 WIB

Iran Bakal Tutup Pintu Negosiasi hingga Trump Lengser





Pengamat Timur Tengah, Dina Yulianti Sulaeman menilai bahwa arah kebijakan luar negeri Iran saat ini cenderung semakin konfrontatif

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dina Yulianti Sulaeman (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Dinamika konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak baru yang semakin memanas.

Pengamat Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Dina Yulianti Sulaeman menilai bahwa arah kebijakan luar negeri Iran saat ini cenderung semakin konfrontatif, terutama dalam upaya pembalasan terhadap Presiden AS, Donald Trump.

Terlebih adanya tekanan publik di Iran turut memperkuat posisi pemerintah untuk tidak melunak. Ia menilai bahwa klaim AS terkait kepemimpinan Iran saat ini sedang melemah, justru, terbantahkan dengan adanya aspirasi dan tuntutan balas dendam dari publik Iran.

"Situasinya justru kan rakyat Irannya itu memang betul-betul ingin ada balas dendam ya, yang diteriakkan itu adalah pembalasan. Mereka tidak ingin berdamai dalam tanda kutip berdamai tapi kitanya nunduk sama Amerika," ujar Dina saat dihubungi Jurnas.com, pada Kamis (13/8).

Selain itu, ujar Dina, arah kebijakan luar negeri Iran terlihat dari keputusan Iran yang masih menutup akses di Selat Hormuz sebagai alat tawar politik.

"Saya pikir justru perkembangan konflik ini atau bagaimana akhir konflik ini sangat tergantung pada dinamika politik internalnya Amerika ya. Karena biar bagaimanapun kan keputusan untuk perang itu kan harus mendapatkan persetujuan kongres," ujarnya.

Ia juga menilai, Selat Hormuz masih menjadi titik krusial dalam perselisihan kedua negara. Iran menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional tersebut tidak akan dibuka sepenuhnya sampai tuntutan mereka dipenuhi oleh pihak AS.

Dina mengungkapkan bahwa Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan yang terjadi serta pencairan aset mereka yang dibekukan.

"Permintaan pokoknya Selat Hormuz baru bisa dibuka kalau ganti rugi dulu, ini Amerika Serikat mengganti rugi atas kerusakan yang sudah ditimpakan kepada Iran. Kemudian Iran juga minta agar uang-uangnya yang dibekukan harus dicairkan dulu," ujarnya.

Dina juga menyoroti adanya perubahan dalam struktur keamanan nasional Iran yang menunjukkan pergeseran ke arah garis keras.

Penunjukan Mohsen Rezaei sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi atau Supreme National Security Council (SNSC) dinilai sebagai sinyal berakhirnya era kompromi.

"Rezaei ini orang revolusioner banget. Enggak ada itu ceritanya negosiasi-negosiasi gitu," ujarnya merujuk pada pimpinan baru dewan keamanan tersebut.

Namun disisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa alih-alih menggunakan serangan militer, Washington kini lebih mengandalkan tekanan ekonomi untuk mendorong Iran menuju kesepakatan damai.

"Kami mengambil pendekatan yang lebih tenang (low-key)," ujar Trump dalam wawancara dengan Axios pada Minggu (10/8).

KEYWORD :

Perang Iran Dina Sulaeman Negosiasi Iran AS Selat Hormuz




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :