Kamis, 13/08/2026 13:33 WIB

Intelijen AS Ragu Soal Isu Ancaman Pembunuhan Trump oleh Iran di Turki





Para pejabat intelijen Amerika Serikat menyangsikan laporan mengenai dugaan ancaman pembunuhan oleh Iran terhadap Presiden Donald Trump di Turki

Gedung Putih membuat seolah-olah Presiden Donald Trump terbang dengan Air Force One pada 8 Juli, seperti yang terlihat pada foto di atas, menurut laporan sebelumnya yang diterbitkan oleh The Washington Post. (Foto: Arsip AFP)

Jakarta, Jurnas.com - Para pejabat intelijen Amerika Serikat menyangsikan laporan mengenai dugaan ancaman pembunuhan oleh Iran terhadap Presiden Donald Trump saat melakukan kunjungan ke Turki untuk KTT NATO.

Ancaman tersebut sebelumnya memicu skenario rahasia untuk menerbangkan Trump keluar dari negara tersebut menggunakan pesawat militer alternatif, menurut laporan The Washington Post.

Informasi ancaman pembunuhan tersebut awalnya diteruskan oleh pemerintah Israel kepada CIA. Namun, para analis CIA tidak menilai data intelijen itu cukup meyakinkan dan menyampaikan keraguan tersebut kepada para pejabat pemerintahan Trump, ungkap pejabat dan mantan pejabat AS yang memahami isu tersebut.

Pejabat lain menyebut laporan ancaman terhadap nyawa Trump tersebut "berasal dari pihak Israel, bukan hasil temuan AS, dan dinilai memiliki tingkat kepercayaan yang rendah (low confidence)," tambah The Washington Post.

Pihak Gedung Putih sempat merekayasa situasi seolah-olah presiden dari Partai Republik tersebut terbang menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One pada 8 Juli, berdasarkan laporan yang dipublikasikan sebelumnya oleh The Washington Post.

Kendati demikian, Trump diam-diam meninggalkan pesawat tersebut dan diangkut menggunakan truk katering bandara menuju pesawat ketiga, sebuah Air Force C-32A, yang membawanya beserta beberapa pembantu utamanya ke Inggris.

"Sebagaimana yang disampaikan Presiden, ia telah menghadapi berbagai ancaman terhadap nyawanya, termasuk dari Iran, dan setiap tindakan telah diambil untuk memastikan keselamatannya," ujar seorang pejabat AS dalam sebuah pernyataan anonim mengingat sensitivitas isu tersebut. "Misi utama Dinas Rahasia AS (US Secret Service) adalah melindungi Presiden, dan hal itu berhasil mereka capai."

Para pejabat intelijen sebelumnya melayangkan kekhawatiran atas potensi serangan terhadap sang presiden atau jet pribadinya, yang mendorong pengambilan langkah pencegahan tambahan serta keputusan untuk tidak menggunakan pesawat baru pemberian Qatar pada penerbangan tahap pertama dari Ankara.

Usai kunjungan singkat ke pangkalan udara di Mildenhall, Inggris, Trump akhirnya menaiki pesawat baru Air Force One untuk melanjutkan sisa perjalanan menuju Washington.

Dalam sesi tanya jawab bersama wartawan di atas pesawat, Trump ditanya secara langsung mengenai kebenaran adanya ancaman kredibel dari Iran terhadap Air Force One.

"Ya, saya menghadapi ancaman sepanjang waktu. Saya berada di urutan pertama dalam daftar target mereka, sebelum kalian," ujar Trump. Ia lantas berseloroh kepada para wartawan yang ikut serta dalam penerbangan, "Namun jika saya habis, kalian juga ikut habis."

Sumber: Arabnews

KEYWORD :

Iran AS Perang Iran Ancaman Pembunuhan KTT NATO Donald Trump




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :