Minggu, 27/09/2026 17:21 WIB

Ulta Levenia: Esports Bukan Sekadar Game, Ada Misi Strategis di Baliknya





Posisi puncak organisasi esports internasional maupun nasional tidak selalu ditempati mantan pemain profesional.

Deputi Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom) RI Ulti Levenia. Foto: dok. jurnas

JAKARTA, Jurnas.com - Esports Indonesia semakin dipandang sebagai bagian dari prestasi, diplomasi, ekonomi digital, dan strategi negara.

Esports tidak tepat lagi dilihat sebatas aktivitas bermain gim semata, saat ini memiliki dimensi yang jauh lebih luas, terutama ketika negara-negara mulai menjadikannya sebagai bagian dari persaingan global.

Pernyataan itu disampaikan Deputi Bakom RI Ulta Levenia di tengah keberangkatan Timnas Esports Indonesia ke Jepang untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026.

Indonesia turun di delapan nomor dengan target satu emas, tiga perak, dan empat perunggu.

“Sebelum bilang ‘itu cuma main game’ izinkan saya cerita sedikit sejarah. Kalau papan catur saja bisa jadi medan geopolitik, sekarang pikirkan esports. Ditonton ratusan juta orang, industri bernilai triliunan. Negara-negara besar membangun tim nasionalnya seperti membangun armada,” ungkap Ulta di Jakarta, Minggu (27/9/2026).

Ulta kemudian mengangkat pertandingan catur Bobby Fischer melawan Boris Spassky di Reykjavik, Islandia, pada 1972. Di tengah Perang Dingin, pertandingan tersebut menjadi simbol persaingan Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Menurut Ulta, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa arena kompetisi dapat berkembang menjadi ruang pertarungan pengaruh antarnegara.

 

Kepemimpinan Baru PB ESI

Konteks tersebut semakin relevan setelah Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Herindra resmi dikukuhkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Esports Indonesia (PB ESI) periode 2026-2030 pada 15 September 2026.

Kepemimpinan Herindra sempat menjadi bahan perbincangan karena latar belakangnya bukan atlet esports profesional. Namun, Ulta menilai persoalan utama bukan apakah seorang pemimpin esports harus seorang gamer.

“Karena semakin tinggi puncak hirarki pimpinan esports itu menjadi governance position, bukan posisi teknis,” ujarnya.

Menurutnya, pemimpin organisasi esports harus memahami tata kelola, pembinaan atlet, strategi pengembangan ekosistem, hingga kepentingan Indonesia di tingkat internasional.

“Yang paling utama adalah mengerti bagaimana atlet mendapatkan yang terbaik. Baik dari latihan, sampai prestasinya,” kata Ulta.

 

Arena Strategis Baru

Ulta juga menyoroti perkembangan kepemimpinan esports di sejumlah negara. Menurut dia, posisi puncak organisasi esports internasional maupun nasional tidak selalu ditempati mantan pemain profesional.

Karena itu, ia meminta publik tidak terjebak pada perdebatan mengenai latar belakang personal seorang pemimpin, tetapi melihat substansi kebijakan dan dampaknya terhadap atlet serta ekosistem esports.

“Masuknya Jenderal Herindra ke dalam puncak pimpinan eSports Indonesia menunjukkan juga bahwa esports ini bukan lagi hanya sekadar gaming, tapi juga sebagai instrumen strategi negara, soft power, dan diplomasi hingga ekonomi digital,” imbuh Ulta.

 

Bawa Nama Indonesia

Bagi Ulta, atlet esports Indonesia yang bertanding di Nagoya tidak sekadar membawa nama gim atau klub masing-masing.

“Mereka bukan sekadar gamers. Mereka atlet. Mereka duta, mereka pasukan terdepan Indonesia di arena persaingan zaman ini,” katanya.

Karena itu, Ulta mengajak masyarakat memberikan dukungan sebagaimana dukungan diberikan kepada cabang olahraga lainnya.

Ia juga mengingatkan publik agar lebih kritis dalam mengonsumsi informasi mengenai esports.

Bagi Ulta, perkembangan esports seharusnya dibaca sebagai bagian dari perubahan lanskap kompetisi generasi digital, bukan lagi sekadar soal siapa yang paling piawai memainkan gim.

“Untuk seluruh delegasi esports kita selamat bertanding, main dengan tenang, menang dengan terang. Stop termakan framing,” pungkasnya.

KEYWORD :

Misi Strategis Esports Ulti Levenia Timnas Esports




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :