Sabtu, 23/05/2026 23:33 WIB

Menag Minta Pesantren Naik Kelas dan Dirikan Ma`had Aly





Menag mendorong pondok pesantren di Indonesia untuk memperkuat tradisi keilmuannya dengan mendirikan Ma`had Aly (Perguruan Tinggi Pesantren).

Menteri Agama, Nasaruddin Umar (Foto: kemenag)

Jakarta, Jurnas.com - Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong pondok pesantren di Indonesia untuk memperkuat tradisi keilmuannya dengan mendirikan Ma`had Aly (Perguruan Tinggi Pesantren).

Menurut Menag, pesantren yang memiliki dasar akademik kuat harus naik kelas agar tidak hanya berhenti di tingkat pendidikan menengah, melainkan mampu menjadi pusat lahirnya ulama, ilmuwan, dan generasi yang berakhlak mulia.

Dorongan kuat tersebut disampaikan Menag saat memberikan arahan di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, sebuah lembaga pendidikan yang didirikan oleh KH Said Aqil Siradj di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Sabtu (23/5).

"Alangkah bagusnya kalau pondok pesantren seperti kita di sini sesegera mungkin membuka Ma’had Aly," ujar Nasaruddin Umar.

Menag menilai, keberadaan Ma`had Aly sangat krusial agar potensi luar biasa yang dimiliki para santri tidak terputus setelah mereka lulus dari jenjang aliyah (setingkat SMA).

Pesantren harus mampu menyediakan ruang lanjutan bagi santri yang ingin mendalami ilmu dalam ekosistem pendidikan yang tetap berakar pada nilai-nilai luhur kepesantrenan.

Namun, Nasaruddin menegaskan bahwa Ma`had Aly jangan hanya dipandang secara sempit sebagai tempat untuk mendalami ilmu-ilmu keislaman klasik (kitab kuning) saja.

Ia mendorong pesantren untuk berani mengembangkan kekhasan tersendiri, termasuk membuka bidang keilmuan yang bersentuhan dengan sains modern.

"Ma’had Aly juga bukan larangan untuk membuka sesuatu yang sifatnya sains," kata Menag.

Pernyataan ini menjadi penekanan penting dari Menag yang ingin mendobrak cara pandang kaku yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Dalam pandangannya, pesantren justru memiliki peluang emas untuk mempertemukan kedalaman spiritual, kekuatan akhlak, dan tradisi riset ilmiah dalam satu kesatuan ekosistem pendidikan.

Di hadapan para santri, Menag mengingatkan kembali lembaran sejarah keemasan Islam.

Pada abad pertengahan, saat peradaban lain masih tertinggal, dunia Islam justru menjadi kiblat kemajuan teknologi, kedokteran, matematika, hingga ilmu optik. Kemajuan itu bisa dicapai karena agama, akhlak, dan riset berjalan beriringan.

Sayangnya, sejarah juga mencatat keruntuhan peradaban tersebut akibat memudarnya semangat ilmiah dan merosotnya moral.

"Jika kita ingin maju kembali, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, tingkatkan penelitian dan pengembangan ilmu. Kedua, perkuat akhlak yang mulia," ucap Menag.

Lebih lanjut, riset dan pengembangan ilmu akan memberikan daya saing yang tinggi bagi pesantren di era modern, sementara akhlakul karimah akan memastikan kemajuan teknologi tersebut tetap membawa kemaslahatan bagi umat manusia.

Dalam kunjungan tersebut, Menag memberikan apresiasi tinggi kepada Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah.

Ia memuji para santri di sana yang tidak hanya menguasai kajian keagamaan dan tafsir, tetapi juga cakap dalam berbahasa Arab, berbahasa Inggris, serta memahami sains.

Menurut Menag, keunggulan pesantren salah satunya terletak pada sistem sekolah berasrama (boarding school).

Lewat sistem ini, pembentukan karakter remaja dapat dipantau secara utuh selama 24 jam melalui pembiasaan disiplin, kemandirian, dan rasa kebersamaan.

Menag berharap Ponpes Luhur Al-Tsaqafah dapat mengambil peran sejarah ini dengan segera mendirikan Ma`had Aly, sehingga mampu mencetak lulusan yang tidak hanya paham agama (alim), tetapi juga siap menjawab tantangan zaman.

"Sekolah-sekolah seperti ini perlu kita kembangkan di masa depan. Sudah saatnya sekolah-sekolah agama bangkit," kata Menag.

 

KEYWORD :

Menteri Agama Nasaruddin Umar Pondok Pesantren Ma`had Aly




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :